Home > METRO BERITA > METRO GAYA > Komunitas > Menguatkan Mental Anak Terbuang melalui Serbuk Kopi

Menguatkan Mental Anak Terbuang melalui Serbuk Kopi

METROSEMARANG.COM – Sebanyak 45 perupa di tujuh daerah sore ini, Jumat (12/8), berkumpul di Nescology Gajahmungkur Semarang untuk mematangkan rangkaian acara pameran lukisan kopi bertajuk ‘On Heart For Second Hope’.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Karena media yang bakal ditampilkan sangat berbeda dari lainnya, mereka terpaksa memutar otak untuk menciptakan sebuah karya unik yang menggugah hati publik.

“Saya baru sekarang terlibat pameran dan sedang merampungkan karya instalasi pohon kopi buat ditampilkan nanti,” kata Mona Palma, seorang seniman kontemporer.

Ia yang semula bergelut pada arsitektur ruangan harus berpacu dengan waktu demi merampungkan instalasi ‘pohon kopi’ agar dapat ditampilkan dalam pameran. “Selama tiga minggu, saya merampungkan karya ini,” sambungnya seraya menambahkan bahwa karya miliknya diberi judul ‘Cinta Versus Penolakan’. Sementara instalasi lainnya ‘Masih ada Pemulihan’.

Mona ingin menyampaikan kepada masyarakat betapa rapuhnya hati anak-anak yang tercampakjan karena tak dikehendaki lahir ke dunia. Simbol-simbol kerapuhan sang anak digambarkan berupa empat lukisan yang digantungkan secara horizontal. Ada guratan-guratan kekelaman yang muncul di tiap lukisan.

“Itu wujud anak-anak dibayangi efek-efek kekelaman. Dan dua karya saya melambangkan kekelaman dan keprihatinan terhadap anak. Tapi esok masih ada harapan dengan cinta kasih luar biasa,” tuturnya.

Mahmud El Khadri, kurator pameran tersebut akan menggelar acara selama seminggu mulai 20 Agustus 2016 mendatang. “Serbuk-sebuk kopi dan pohonnya sekalian akan dieksplor jadi karya bernilai seni tinggi,” ujar Mahmud.

Ke-45 perupa nantinya memajang 80 lebih karyanya di Nescology, yang notabene sebuah kafe dengan tampilan penuh artistik.

Dengan berbagai jenis painting dan aliran, ia mengajak tiap perupa menampilkan semua hal yang mampu menguatkan mental anak-anak. Yang unik, kata Mahmud, semua perupa memakai bahan kopi di tiap karyanya.

Ia pun akan melelang tiap lukisan kopi paling rendah Rp 5 juta hingga Rp 50 juta. Hasil lelang bakal dipakai untuk membangun sanggar pemulihan mental anak yang pernah  tersangkut dengan hukum. (far)