Home > Berita Pilihan > Menyingkap Jejak Pendeta Bertato yang Berkawan dengan Anak Pekerja Seks

Menyingkap Jejak Pendeta Bertato yang Berkawan dengan Anak Pekerja Seks

METROSEMARANG.COM – Penampilannya yang penuh tato pada wajahnya membuat Agus Sutikno mudah dikenali di Kampung Pandean Lamper, Semarang Timur. Tapi pada Kamis (9/3), kondisi kampung tersebut cenderung sepi. Pemandangannya sangat kontras dibanding malam hari di mana banyak penjaja seks mangkal di rumah-rumah bordil.

Agus Sutikno, pendeta nyentrik yang akrab dengan kaum pinggiran. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Agus siang itu tampak sibuk bercengkrama dengan beberapa pemuda setempat. Sekilas perawakannya terlihat seram. Tubuhnya tinggi kurus serta berambut gondrong tak nampak seperti seorang pendeta Kristen.

“Sudah 14 tahun saya tinggal di Pandean Lamper bersama anak-anak pekerja seks. Orangtuanya membuka jasa panti pijat sedangkan mereka putus sekolah,” kata Agus.

Kampung Pandean Lamper, kata Agus merupakan kawasan kumuh yang sarat permasalahan sosial. Kampung itu dihuni ragam masyarakat yang punya masalah sangat kompleks.

“Ada 80 waria, kos-kosan pemandu karaoke yang berbaur dengan rumah-rumah pengemis dan pemulung, belum lagi ODHA (Orang dengan HIV AIDS) dan anak pekerja seks. Makanya saya mencoba mengangkat harkat hidup mereka,” tuturnya.

Ia yang terenyuh melihat banyaknya anak putus sekolah akhirnya berusaha pasang badan untuk membiayai sekolah mereka. Ini baginya misi Tuhan yang patut dijalankan oleh tiap pemula agama, khususnya kalangan gerejawi seperti dirinya.

“Walau saya seorang pendeta, tapi saya pastikan di sini tidak ada yang pindah agama. Saya hormati semuanya. Tidak ada kristenisasi. Ini misi Tuhan demi mengasihi umat manusia,” kata pendeta Kristen Pantekosa Semarang itu, saat mengingat perjuangannya dengan mata berkaca-kaca.

Tiap donatur datang silih berganti. Ia bilang tangan-tangan Tuhan secara sukarela tergerak mendatangi dirinya. Ada yang membawa uang ala kadarnya. Tapi ada pula yang menyumbangkan tenaganya demi membantunya menolong sesama manusia.

Uang para donatur yang terkumpul ia pakai untuk membiayai anak putus sekolah. “Hati saya tersentuh melihat bagaimana ratusan anak terbelenggu dalam lingkungan yang kumuh. Saya membiayai sekolahnya sampai SMK,” akunya.

“Saya menyemangati mereka, jangan takut sukses. Walaupun kalian anak pekerja seks, tapi berhak mengenyam pendidikan setinggi mungkin,” cetusnya.

Ia sudah tak mempedulikan cibiran dari sesama pendeta Kristen. Ia menganggap bila kebanyakan pendeta Kristen terjebak dogma yang mengakar sejak puluhan abad. Sehingga mereka tak terima jika ada rekannya yang bersikap berbeda dengannya.

Justru baginya, jadi pendeta tak melulu berpakaian rapi dan berkhutbah di mimbar. Melainkan harus mampu bersosialisasi dengan masyarakat luas.

“Jadi pendeta itu enggak cuma khutbah membacakan firman Tuhan. Namun pendeta harus meneladani Yesus, berbaur dengan warga miskin sehingga bisa menyampaikan misi Tuhan,” katanya.

Ia berharap anak pekerja seks bisa bersekolah setinggi mungkin demi memutus mata rantai pelacuran yang melekat. Dengan mengenyam pendidikan, para bocah bisa menggapai sukses layaknya masyarakat umum lainnya. (far)