Home > Berita Pilihan > Menyingkap Sekat Perbedaan dalam Tradisi Buka Luwur Abah Saiful

Menyingkap Sekat Perbedaan dalam Tradisi Buka Luwur Abah Saiful

Santri-santri Ponpes Az-Zuhri mengikuti tradisi buka luwur, Rabu (11/2) malam. Foto Metrosemarang/MS-01
Santri-santri Ponpes Az-Zuhri mengikuti tradisi buka luwur, Rabu (11/2) malam. Foto Metrosemarang/MS-01

SEMARANG – Perbedaan adalah rahmat, karena ia adalah keniscayaan. Namun, janganlah perbedaan tersebut dijadikan sumber petaka, jadikanlah perbedaan tersebut sebagai pemersatu.

Melebur perbedaan dan menjadikannya sebagai pemersatu, merupakan ajaran Abah Syeikh Saiful Anwar Zuhri Rosyid kepada santri-santrinya. Semangat inilah yang coba dihadirkan dalam peringatan haul pendiri PondokPesantren Az-Zuhri tersebut.

Ribuan santri dan warga mengikuti acara Haul Abah Syeikh Saiful Anwar Zuhri Rosyid di Pondok Pesantren Az-Zuhri, Ketileng, Rabu (11/2) malam. Acara haul ditandai dengan buka luwur, yakni penggantian kain klambu yang menjadi penutup makam.

Menariknya acara buka luwur di tempat ini diiringi dengan pertautan dua budaya, yakni tradisi kejawen dan islam.

Acara diawali dengan iring-iringan sejumlah santri berpakaian adat jawa kejawen yang berjalan pelan sambil diiringi tembang pangkur dan dandanggulo memasuki area Masjid Baitul Hidayah. Santri yang ada di bagian terdepan membawa peti berisi kain klambu, di belakangnya sejumlah santri lain mengikuti dengan membawa bermacam hasil bumi palawija.

Selanjutnya peti berisi kain klambu diserahkan kepada pengasuh Pondok Pesantren Gus Lukman Hakim untuk kemudian dibawa ke area makam Abah Saiful yang juga ada di dalam Masjid Baitul Hidayah.

Menurut Mas Ton, perwakilan santri pembawa peti buka luwur, ritual ini sesuai dengan ajaran yang selama ini diwariskan oleh Abah Saiful kepada santri-santrinya.

“Jadilah manusia yang samudra, manusia yang bisa menerima dan menampung segala hal, memiliki keluasan berfikir, dengan begitu kita akan selalu bisa mengikuti perkembangan zaman,” katanya.

Pertemuan dua budaya kejawen dengan ajaran islam ini juga salah satu bentuk keluasan berfikir dan menerima perbedaan sesuai ajaran Abah Saiful. Perbedaan adalah rahmat ia adalah keniscayaan, namun janganlah perbedaan tersebut dijadikan sumber petaka, jadikanlah perbedaan tersebut sebagai pemersatu.

Acara buka luwur dengan prosesi adat kejawen dan islam ini sendiri baru pertamakali dilakukan di Pondok Pesantren AZ-Zuhri.

“Haul pertama tahun lalu prosesi buka luwurnya hanya menggunakan tradisi islam, dan mulai tahun ini ada penggabungan kejawen dan islam.” pungkas Mas Ton yang juga adalah pentolan Teater Lingkar ini. (MS-01)