Home > METRO BERITA > Merawat ‘Tangan-tangan Besi’ sebagai Urat Nadi Tol Laut

Merawat ‘Tangan-tangan Besi’ sebagai Urat Nadi Tol Laut

METROSEMARANG.COM – Sang surya baru muncul separuh di atas langit Semarang, tapi Wahyu Cahyo Utomo sudah terburu-buru masuk ke Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) pada Rabu (9/11). Tepat pukul 08.00 WIB, ia telah mengenakan rompi hijau muda dan helm putih.

Bingkar muat di TPKS Tanjung Emas Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Bongkar muat di TPKS Tanjung Emas Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Hampir saban hari, Cahyo, sapaan akrabnya harus bergulat dalam rutinitas tersebut. Tugasnya tak mudah. Ia harus selalu memastikan kehandalan peralatan crane optimal 24 jam dalam seminggu.

Dari kedua tangannya lah, crane-crane itu mampu memindahkan ribuan ton peti kemas ke dermaga. Mulai dari mengangkat peti kemas dari dek kapal menuju terminal. Lalu dari terminal diangkut lagi memakai truk-truk kontainer, harus dilakukannya dengan cekatan namun ekstra hati-hati.

Lengah sedikit saja baginya malapetaka. “Karena crane yang ngadat bisa mengganggu kelancaran bongkar muat barang dari kapal kargo ke terminal peti kemas,” katanya kepada Metrosemarang.com.

Sama seperti Rabu pagi ini. Ia harus tepat waktu masuk kerja karena arus bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Emas sedang meningkat pesat. “Saya tiap hari bergantian mengoperasikan crane bersama rekan-rekan karena arus kapal naik 2 persen tahun ini,” katanya lagi.

Pada pertengahan tahun ini, Pelindo III Cabang Semarang memang mendapat angin segar dari pemerintah pusat. Presiden Jokowi telah mengutus Menhub saat itu Ignasius Jonan untuk memperbaharui peralatan crane yang telah usang.

Kemenhub ternyata tak butuh waktu lama untuk mewujudkan keinginan Presiden Jokowi. Mereka secara berkala menggelontorkan 11 unit crane seri terbaru. Itu untuk menggantikan peralatan lama yang kerap dioperasikan manual.

“Di sini, terdapat penggantian 11 unit ARTJ model terbaru. Lalu 2017 nanti akan didatangkan sembilan alat lagi. Jadi kita nantinya memodernisasi alat sehingga tidak lagi berhubungan dengan pengguna jasa. Semuanya sudah dikendalikan otomatis. Makanya, saya harus menyesuaikan perubahan alat dari manual menjadi memakai joystick di dalam ruang kendali,” ujarnya.

Pria asli Malang ini merupakan satu-satunya petugas pengendali kehandalan mesin crane 24 jam nonstop. Ia pun sejak 10 tahun terakhir ditempatkan di sektor Divisi Teknik Perbaikan Peralatan TPKS.

Berlatarbelakang sebagai jebolan Teknik Mesin Universitas Brawijaya ditambah sempat mengenyam ilmu di Negeri Kincir Angin Belanda, tak heran bila sosoknya selalu dicari. Setidaknya selama 10 tahun terakhir bekerja wira-wiri di kawasan Pelindo III baik Surabaya maupun Semarang. Namun, dengan penggantian mesin crane yang baru justru menguji adrenalinnya.

Ia dipaksa ekstra keras untuk menyesuaikan ritme kerja. Dari semula dikerjakan manual. Kini semuanya serba otomatis. Walau demikian, bagi bapak tiga anak ini merawat crane sama pentingnya dengan merawat keluarganya.

“Biar pekerjaan semakin lancar, saya bahkan rela memboyong istri dan tiga anak saya dari Malang agar dapat tinggal di Kampung Bangetayu Genuk Semarang,” akunya.

Cobaan pertamanya saat merawat crane seri terbaru terjadi pada sebulan terakhir. Didukung peralatan canggih, ternyata pekerjaannya lebih rumit.

“Sedihnya kalau ada crane rusak. Apalagi kalau listriknya mati. Kita jadi ekstra keras. Saya sering malam-malam ngebut ke kantor demi menyambungkan kabel crane yang putus. Ya beginilah resikonya, saya jadi super sibuk,” katanya.

Erry Akbar Panggabean, General Manager Pelindo III TPKS pun bangga akan kinerjanya. Erry bahkan tak segan menyebut Cahyo sebagai sosok militan yang punya totalitas tinggi saat bekerja.

“Tahun ini kita akan terus menggenjot kinerja TPKS agar saat akhir Desember nanti mampu meraih target tahunan dari kantor pusat,” paparnya. (far)