Home > METRO BERITA > Minim Perlindungan Hukum, Aksi Kekerasan PRT Kian Sadis

Minim Perlindungan Hukum, Aksi Kekerasan PRT Kian Sadis

METROSEMARANG.COM – Lemahnya perlindungan hukum yang didapat para pekerja rumah tangga (PRT) membuat kasus kekerasan yang menimpa mereka pada tahun ini semakin merajalela.

Ilustrasi
Ilustrasi

Bahkan, menurut Ketua Serikat PRT Merdeka Semarang, Nur Kasanah, tindak kekerasan yang dilakukan beberapa majikan tergolong sadis dan tidak manusiawi. Kejadiannya pun mengalami tren peningkatan apabila dibanding tahun lalu.

“Bayangkan saja, kami menemukan Mufiatun PRT asal Kudus yang menerima tekanan psikologis dan fisik karena disiksa dan disekap selama tiga tahun terakhir. Dia dirawat di rumah sakit dengan tubuh penuh luka bakar karena disetrika oleh majikannya dan luka-luka serius lainnya,” kata Nur saat dihubungi metrosemarang.com, Senin (25/10) pagi.

Ia mengaku geram atas kejadian itu. Apalagi, lanjutnya, rentetan kasus kekerasan lainnya juga bermunculan di Kabupaten Wonosobo. Seorang PRT asal Wonosobo yang bekerja di Semarang ditemukan mengalami kekerasan fisik dan dugaan human trafficking.

Selain fisik dan psikis, haknya seperti libur mingguan, cuti, hak berorganisasi, berkumpul tidak diberikan oleh majikan. “Jam kerjanya malah hampir 24 jam. Dan di luar itu saya menduga masih ada kasus kekerasan lainnya yang belum dilaporkan oleh PRT di tiap daerah,” ungkapnya.

Maka dari itu, ia mengatakan pentingnya UU Perlindungan PRT yang tidak hanya melindungi PRT tapi juga majikan. “PRT juga harus memiliki perjanjian kerja tertulis. Ini yang selama ini diabaikan. Atas kondisi ini, pemerintah patut bertanggungjawab,” terangnya.

Selain mengalami kekerasan fisik, PRT sering tidak mendapatkan uang lembur, pemutusan hubungan kerja yang sepihak dan tindakan diskriminasi lainnya.

Karena itulah, ia akan terus mendampingi PRT yang jadi korban kekerasan. Pun demikian dengan pemberian perlindungan hukum agar pelakunya dapat dijerat dengan sanksi tegas. (far)