Home > Berita Pilihan > Mungkin Payungmu Pernah Dibetulkan Kakek Ini

Mungkin Payungmu Pernah Dibetulkan Kakek Ini

Namanya Rasdi. Umurnya sudah tak muda lagi. Tapi urusan berjalan kaki, Rasdi sungguh bernyali.

SABAN hari Rasdi berjalan kaki keluar-masuk gang kampung-kampung Kota Semarang. Perjalanan kaki ia mulai selepas turun dari bus yang membawanya dari Cangkiran, Kecamatan Mijen. Rasdi selalu turun di depan Pasar Karangayu.

Kardi menawarkan jasa servis payun untuk warga Semarang. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi
Rasdi menawarkan jasa servis payun untuk warga Semarang. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Dari sana, suatu kali ia berjalan memutari Kampung Krobokan, berlanjut hingga Kokrosono dan Kampung Pendrikan. Kali lain ia menyusuri Kawasan Pusponjolo, menembus Lemah Gempal lalu menuju Kampung Bendungan.

Rutenya berubah-ubah. Namun yang selalu ia lewati adalah gang-gang kecil di perkampungan seputar Pasar Johar. Perjalanan pulang ditempuh Rasdi dengan kembali berjalan menuju Pasar Karangayu atau Pasar Bulu yang sejalur, untuk mencegat bus.

Di umur yang sudah 65 tahun, Rasdi tak sedang latihan peregangan otot-otot tua, seperti kebanyakan pensiunan seusianya. Ia berjalan untuk menjajakan jasa perbaikan payung rusak.

Modalnya adalah beberapa payung bekas yang sudah tak mungkin diperbaiki lagi. Rasdi selalu menentengnya dalam ikatan tali berbahan karet. Bagian-bagiannya yang masih bagus, dipakai Rasdi untuk mengganti payung rusak milik pelanggan.

Tang dan obeng adalah alat kerjanya. Semuanya ada di dalam tas cokelat yang ia sandang, tas dengan lubang di pojoknya. Perlengkapan tambahan, kawat dan benang ia beli berkala.

“Kawat saya beli kalau persediaan habis. Saya pilih yang putih perak, kualitasnya bagus. Harga lima ribu sampai tujuh ribu rupiah per ons. Benangnya untuk menjahit lembaran kain payung ke kerangka besi,” tutur Rasdi sembari memerlihatkan peralatan kerjanya.

Kata Rasdi, musim penghujan seperti saat ini bukan jaminan pasti untuknya mendapat pelanggan. Sekarang ini justru sedang sepi. “Tadi saya jalan dari Pasar Karangayu sampai ke sini, belum dapat (pelanggan – red),” ujarnya Selasa (15/11) siang dalam sela perjalanannya di Kokrosono.

Biasanya kalau sedang ramai, Rasdi mendapat sedikitnya 10 pelanggan. Dengan ongkos perbaikan tujuh ribu sampai sepuluh ribu rupiah – tergantung tingkat kerusakan, Rasdi sudah bisa membawa pulang uang yang lumayan. Tapi kalau sedang sepi, Rasdi hanya bisa membawa uang hasil memperbaiki tiga sampai lima payung saja.

Sudah lama Rasdi menjajakan jasa perbaikan payung. Rasdi sendiri lupa kapan tepatnya ia mulai. Ia hanya ingat, awal menjalani pekerjaannya itu pelanggan sangat ramai. Saat itu ia belum bercucu, kini cucunya sudah lima. “Dulu belum banyak yang servis payung. Sekarang sudah banyak, jadi ya berkurang langganan,” kisah Rasdi.

Sebetulnya Rasdi memiliki sawah di tempat tinggalnya. Lumayan, ada seperempat hektare. Memperbaiki payung secara keliling baginya hanya pekerjaan sambilan, meski memakan waktu seharian. Rasdi berangkat dari rumah pukul 07.00 dan baru beranjak pulang pukul 16.00.

Istri Rasdilah yang mengurus sawah saat ia mengelilingi kampung untuk membetulkan payung. Sebagai rumah tangga petani, keluarga Rasdi harus bergelut dengan hama. “Kalau ndak wereng ya tikus,” begitu kata Rasdi. Tikus yang paling ganas menurutnya. Kalau diserang tikus, padi bisa habis. Paling-paling bulir padi hanya sisa dua atau kaleng biskuit.

Namun bukan karena hasil dari sawah kurang untuk hidup, – toh Rasdi sudah bisa membesarkan empat anaknya sampai masing-masing berumah tangga dan memiliki tempat tinggal sendiri. Cuma bagi Rasdi, perlu untuk mencari tambahan penghasilan. Karenanya, ia tetap bernyali berjalan kaki lebih dari 10 kilometer dalam sehari. (eka hendriana)