Home > METRO BERITA > Sosialita > Nahna Nailussa’adah, Pantang Jatuh Cinta Sebelum Hafal Alquran

Nahna Nailussa’adah, Pantang Jatuh Cinta Sebelum Hafal Alquran

MENJADI seorang hafidzhoh, sudah menjadi impian Nahna Nailussa’adah sejak kecil. Sang ibu yang sudah menjadi seorang penghafal Alquran menjadi motivasi baginya. Apalagi, track record orangtua yang punya banyak prestasi membuatnya semakin termotifasi.

“Yang memotivasi untuk menghafal itu diri saya sendiri. Karena ibu hafidzhoh dan di rumah banyak sekali piala di lemari, semua itu punya umi saya. Umi saya dulu juga sering ikut lomba MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) dan MHQ (Musabaqah Hifdzil Quran) dan sering memenangkan lomba tafsir bahasa arap yang harus melalui tes hafalan Alquran,” kata Nahna, sapaan akrabnya.

Nahna Nailussa'adah Foto: dok pribadi
Nahna Nailussa’adah
Foto: dok pribadi

Kepada metrosemarang.com, ia mengaku tak mudah untuk menghafal Alquran yang berjumlah 30 juz. Selain kesibukan sebagai seorang mahasiswa, menghafal butuh keuletan agar bisa tetap istiqomah.

“Kesulitannya istiqomah, apalagi saya sambil kuliah, dan juga mengajar ekskul seni baca Alquran di beberapa sekolahan. Jadi, nambah hafalan kadang-kadang nggak bisa konsisten hari demi harinya,” kata mahasiswi UIN Walisongo Semarang¬† Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam semester 7.

Untuk itu, Nahna pun memanfaatkan waktu sekecil mungkin untuk menghafal sambil memanfaatkan waktu luang. Tak hanya itu, ada beberapa tips yang ia pegang selama proses menghafal. Selain niat karena Allah, istiqomah dan menjauhi perbuatan maksiat yang sangat berpengaruh terhadap hafalan alquran.

“Sebenarnya ini prinsip saya tapi saya akan share ke teman-teman calon penghafal Alquran, berusaha jangan jatuh cinta terlebih dahulu kepada lawan jenis, itu godaan paling berat,” kata Nahna yang sudah hafal 17 juz.

Meski begitu, mood saat menghafal juga sedikit memberi pengaruh padanya. Kini, sambil menempuh kuliah, sehari ia menghafal satu halaman, kalau hari libur menjadi dua halaman, sedang untuk muroja’ah sehari minimal dua juz. (din)