Napas Terakhir Bisnis Bongpay Tertua di Indonesia

THAN Hay Ping sedang sibuk mengirim pesanan kijing Cina (bongpay) saat ditemui metrosemarang.com di rumah sekaligus pabriknya di Gang Gambiran Nomor 25, kawasan Pecinan, Semarang Tengah, pada Kamis (15/2) kemarin.

Than Hay Ping tetap eksis memertahankan bisnis bongpay yang semakin kembang kempis. Foto: metrosemarang.con/fariz fardianto

Papan tulisan Hok Tjoan Hoo dipasang besar-besar di depan pabriknya. Sembari mempersilakan duduk, Than yang punya nama Indonesia Pianto Sutanto itu mengatakan usahanya saat ini semakin kembang-kempis.

Bersama tiga pekerjanya, tak banyak yang bisa dilakukannya selain menerima orderan dalam jumlah minim. “Sebulan enggak tentu. Paling dua sampai tiga biji,” ungkap pria berusia 50 tahun tersebut.

Bisnis bongpay kini sedang berada di titik nadir. Pabriknya yang berdiri sejak 1911 silam itu kian kesulitan mencari pembeli.

Padahal, saat masih digdaya dahulu, pabriknya dikenal salah satu penghasil bongpay berkualitas terbaik dari Pulau Jawa. Pesanan selalu berdatangan dari berbagai daerah mulai Kota Sampit, Palangkaraya, Flores, Lombok, Padang, Lampung, Palembang sampai merambah ke luar negeri.

Bahkan, bongpay buatan pabriknya kerap disumbangkan kepada Klenteng Tay Kak Sie. “Hok Tjoan Hoo satu-satunya perajin bongpay tertua di Indonesia yang eksis sampai saat ini,” akunya.

Semua kerja keras itu, tak lepas dari leluhurnya yang mahsyur sebagai perajin bongpay asal Desa Wean, Republik Rakyat Cina.

“Saya generasi kelima yang meneruskan bisnis bongpay di Gambiran. Usaha ini semula dirintis oleh Tan Thian Giet, dia canggah saya yang asalnya dari Wean Cina, yang terkenal sebagai desa penghasil bongpay. Ketika Laksamana Cheng Ho datang kemari, canggah saya ikut menumpang kapalnya sambil membawa batu gunung untuk dibuat bongpay,” katanya.

Berawal dari situlah, leluhurnya kemudian tinggal di Gang Gambiran sampai beranak pinak. Satu keunggulan bongpay buatan pabriknya terletak pada guratan pahatannya yang halus dan luwes.

Sepeninggal Than Thian Giet, bisnis bongpay diwariskan kepada adiknya yang bernama Than Kit Sing sekitar 1962 silam.

Setelah itu, bisnis bongpay diteruskan oleh keturunan Kit Sing yang bernama Than Kim Biaow alias Artono Sutanto. Perkembangan bisnis bongpay mulai memperlihatkan kemajuan mulai 1968 sampai Gang Gambiran populer sebagai Kampung Bongpay.

“Dulunya ada empat perajin. Belum lagi ada beberapa warga tertarik jualan bongpay kecil-kecilan juga,” ucapnya.

Usai Than Kim Biaow yang tak lain ayahnya wafatnya, ia meneruskan usaha tersebut sampai sekarang. Nama pabrik Hok Tjoan Hoo sendiri mengandung makna hoki, untung dan enak. Arti kata inilah yang akhirnya mensugesti pabriknya bisa bertahan sampai ribuan tahun. “Kita menang merek dan terjaga kualitasnya,”.

Penggusuran Kuburan

Walau begitu, diakuinya bahwa meneruskan usaha bongpay tak melulu membuatnya bahagia. Penyebabnya tak lain karena penjualan bongpay turun drastis sejak lima tahun terakhir.

Bongpay bikinan Than Hay Ping sudah dikenal hingga seantero Nusantara. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Pemerintah seenaknya menggusur kuburan Cina. Banyak kuburan dijual untuk dibikin perumahan. Contohnya di Karanggawang Sendangguwo, Kedungmundu. Kalau pun masih bertahan, pasti lahannya dikuasai pemilik yayasan pemakaman. Imbasnya, bongpay buatan kita enggak laku,” tuturnya.

Ia pun menaruh harapan besar di pundak pemerintah Kota Semarang untuk mengambil kebijakan yang berpihak pada masyarakat Tionghoa. Setidaknya, katanya pemerintah memfasilitasi pembukaan lahan untuk digunakan sebagai lokasi pekuburan Cina.

Agar bisnisnya tetap eksis, ia saat ini memilih nyambi membuat cobek. Bahan baku cobek memakai sisa batu bongpay. Diluar dugaan, pesanannya justru lumayan banyak. Dalam dua hari, ia mampu menggarap pesanan 10-12 cobek.

Satu set cobek ia jual Rp 250 ribu-Rp 300 ribu. “Karena batu bongpay didapat dari pegunungan, maka ketika dibuat cobek kualitasnya cukup bagus. Buat ngulek bumbu juga lebih halus,” terangnya. (far)

You might also like

Comments are closed.