Home > METRO BERITA > Napi Nusakambangan Jalankan Bisnis Narkoba di Semarang, Kok Bisa?

Napi Nusakambangan Jalankan Bisnis Narkoba di Semarang, Kok Bisa?

METROSEMARANG.COM – Tiga pengedar narkoba jenis sabu berhasil dibekuk jajaran Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Semarang. Ketiganya yakni Yulius Yanuardhita, Bastian Sitorius, dan Yanuar Arianto Wibowo. Mereka mengaku dikendalikan oleh warga binaan dari dua Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kedungpane dan Nusakambangan.

Ungkap kasus peredaran sabu jaringan Lapas Kedungpane dan Nusakambangan. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

“Untuk Yulius dan Bastian dikendalikan dari Lapas Kedungpane, sementara Yanuar dikendalikan dari Lapas Nusakambangan,” ujar Kasat Resnarkoba Polrestabes Semarang, AKBP Sidik Hanafi saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Selasa (23/5).

Ketiga tersangka berhasil diamankan dalam kurun waktu dua hari sejak Senin (15/5) lalu. Ketiganya ditangkap di tempat berbeda. Yulius ditangkap di rumahnya Pucang Rinenggo X No.2 RT 02 RW 01 Kelurahan Batusari, Kecamatan Mranggen, Demak. Kemudian Bastian ditangkap di depan sebuah toko seluler di Jalan Palebon Raya, Kecamatan Pedurungan, Semarang. Sedangkan Yanuar diamankan saat hendak membeli pulsa di salah satu konter handphone di Jalan Satria Wibowo III Kelurahan Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Semarang.

Dari tangan ketiga tersangka, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa sabu seberat 269 gram dan juga uang tunai sebesar Rp 1,8 juta. “Dari Yanuar 118 gram, dari Bastian dan Yulius 151 gram,” beber Hanafi.

Ketiganya melakukan peredaran di wilayah Semarang. Dari pengakuan Yanuar, ia biasa mendapatkan imbalan sebesar Rp 30 ribu setiap mengantarkan 1 gram sabu. Namun jika mengirim paket 100 gram ia bisa mendapatkan upah hingga Rp 1 juta.

Sedangkan Yulius dan Bastian mengaku masing-masing mendapatkan upah sebesar Rp 1 juta dalam sekali mengambil dan mengedarkan barang. Mereka juga mendapatkan Rp 1,5 juta yang digunakan sebagai uang transport pengambilan barang di Surabaya hingga barang tersebut berhasil diedarkan.

“Untuk menjualnya atau mengedarkannya, mereka membagi dalam ukuran kecil, dan untuk meletakkannya mereka sesuai dengan arahan dari pengendali yang ada di Lapas melalui komunikasi handphone,” beber Hanafi.

Kini mereka dijerat dengan pasal 114 ayat 2 dan Pasal 112 ayat 2 UU RI Nomor 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (fen)