Home > Uncategorized > Nasib Kerajinan Lukis Kaca, Dulu Berjaya Kini Diabaikan

Nasib Kerajinan Lukis Kaca, Dulu Berjaya Kini Diabaikan

METROSEMARANG.COM – Kondisi pengrajin lukisan kaca di Kabupaten Demak kian terpuruk, menyusul munculnya beragam hiasan dinding lain yang lebih elegan dengan produksi pabrikan. Perlahan, lukisan kaca hasil tangan secara manual ini kian menghilang seiring minimnya permintaan.

Di era 90an, banyak rumah terutama di kalangan menengah ke atas terpajang hiasan dinding kaca dengan motif lukisan beragam. Seperti panorama alam, jenis hewan dan motif-motif batik lainnya. Saat itu, sedikitnya ada sekitar 103 pengrajin lukisan kaca di Kabupaten Demak, terutama di Desa Cabean.

Riswanto tengah melayani calon pembeli. Foto: metrojateng.com

Namun, sejak memasuki era tahun 2000 pengrajin lukisan kaca kian menyusut jumlahnya. Hal itu lebih karena persaingan pasar sangat ketat. Sehingga, hasil penjualan yang tidak dapat menutup modal membuat pengrajin bangkrut. Hingga saat ini, pengrajin lukisan kaca hanya tinggal dua yang masih bertahan memproduksi.

Salah satunya adalah Riswanto, yang masih menerima permintaan pesanan lukisan kaca. Meski tak seramai dulu, dia tetap memanfaatkan kemampuannya dalam mengolah limbah kaca dan polesan cat lukis.

“Memang sudah tidak banyak dicari, tapi bukan berarti permintaan tidak ada sama sekali. Saya masih melayani permintaan,” katanya.

Diceritakan, saat masih banyak permintaan dulu, dirinya memiliki sales dan buruh yang diambil dari warga sekitar. Sebab, pemesan banyak yang dating dari luar kota. Seiring waktu, para buruh berkurang karena permintaan pun menyusut. “Kami masih bertahan, dengan jumlah pemesan yang kian minim,” tuturnya.

Diakuinya, permintaan lukisan kaca memang tidak dalam jumlah besar. Selain itu, harganya juga sangat murah dibanding dengan biaya produksi. Pemesan dapat memilih harga mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 1,5 juta, tergantung besar ukuran dan kerumitan motif. “Paling murah Rp 200 ribu itu ukurannya satu meter persegi,” lanjutnya.

Saat ini, pemesanan banyak untuk lukisan kaca jenis painting. Selain harganya murah, juga memiliki corak yang indah, bahkan pembeli bias mengganti corak lukisan tiap tahun. Sedangkan jenis pahatan kaca dan jenis patri kurang diminati karena harganya mahal. “Jenis pahatan dan patri harganya mencapai Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta,” ungkap dia.

Agung, seorang warga Desa Cabean mengatakan, kerajian lukisan kaca dulu menjadi ikon desanya. Namun, saat ini banyak orang yang tidak mengenal karena keberadaan lukisan kaca terkikis oleh kemunculan kerajinan hiasan dinding yang lain.

“Kalau lukisan seni rupa tidak semua dapat memiliki karena harganya memang mahal. Tapi kalau lukisan kaca harganya terjangkau. Tapi sekarang sudah sepi, dan hanya tinggal beberapa saja yang masih memproduksi,” ujarnya. (metrojateng.com/MJ-23)

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link