Beranda METRO BERITA Ombudsman Sidak SMA 3 dan SMA 5

Ombudsman Sidak SMA 3 dan SMA 5

BERBAGI
Ombudsmand RI Perwakilan Jawa Tengah melakukan sidak di SMA 3 dan SMA 5 untuk memantau mekanisme perpindahan peserta didik. Foto Metrosemarang/MS-06
Ombudsmand RI Perwakilan Jawa Tengah melakukan sidak di SMA 3 dan SMA 5 untuk memantau mekanisme perpindahan peserta didik. Foto Metrosemarang/MS-06

SEMARANG – Ombudsman RI Pewakilan Jawa Tengah tanpa pemberitahuan mendatangi SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 5 Semarang. Ombudsman melakukan penelusuran data terkait kemungkinan penyalahgunaan wewenang yang mencederai rasa keadilan masyarakat.

Data investigasi Ombudsman menyebutkan, ada perpindahan siswa sekolah swasta ke sekolah negeri yang menjadi favorit di Semarang. Mekanisme pindah sekolah tersebut memang tidak dilarang dan diatur dalam Peraturan Wali Kota Semarang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Penerimaan Peserta Didik.

“Namun peraturan wali kota itu tidak tersosialisasikan dengan baik. Dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mengakses perpindahan itu. Ada indikasi penyalahgunaan wewenang dan itu menciderai rasa keadilan masyarakat,” kata Ketua Ombudsman Jateng Ahmad Zaid, Kamis (12/2) di SMA 3.

Kepala SMA 3, Bambang Nianto Mulyo mengatakan, pada semester II ini pihaknya menerima satu siswa pindahan dari SMA Ksatrian 2. “Ada satu yang pindah kemari. Anak guru Bahasa Inggris yang mengajar lama di sini. Kami mempertimbangkan jasa beliau,” kata Bambang.

Ia mengakui hal tersebut merupakan bentuk diskriminasi. Namun di sisi lain, pihak Bambang tetap mempertimbangkan persyaratan yang ada dalam peraturan terkait mutasi tersebut.

Sementara Kepala SMA 5, Titik Priyatiningsih  menyebutkan pihaknya menerima tiga siswa pindahan. Dari SMA Institut Indonesia, SMA Ksatrian 1 dan SMA Ksatrian 2. “Sepanjang memenuhi syarat yang sudah diatur ya kami mengakomodir, membantu masyarakat untuk mendapat akses pendidikan,” kata Titik.

Dikatakan Ahmad Zaid, mekanisme pindah sekolah itu dikhawatirkan menjadi modus untuk dapat masuk sekolah yang dijadikan favorit oleh masyarakat. “Khawatirnya lagi kalau pihak sekolah memanfaatkan itu. Mengenakan biaya, misalnya. Karena dari data yang kami peroleh, siswa-siswa yang pindah sekolah adalah anak-anak orang terpandang,” kata Zaid. (MS-06)

activate javascript