Organda: Jangan Bunuh Bisnis Pengusaha Transportasi

Bus Rapid Transit dinilai belum mampu melayani kebutuhan angkutan umum di Semarang. Foto Metrosemarang/Ade Lukmono
Bus Rapid Transit dinilai belum mampu melayani kebutuhan angkutan umum di Semarang. Foto Metrosemarang/Ade Lukmono

WACANA akan dikuranginya Angkutan Kota (Angkot) di Semarang, membuat  Ketua Organda Jawa Tengah, Karsidi Budi Anggoro langsung tersenyum sinis. Pasalnya, dia merasa pemerintah melupakan jasa dan perjuangan pengusaha transportasi.

“Pengusaha transportasi sudah memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan bangsa, entah itu transportasi untuk penumpang ataupun barang,” kata Kardisi.

Dia mengatakan, penghapusan angkot dan kemudian digantikan dengan Bus Rapid Transit (BRT) akan masih sulit dilakukan. “Armada BRT masih terbatas, anggaran pemerintahnya pun terbatas,” ujarnya.

Oleh karena itu, win-win solution yang dia tawarkan adalah mengenai pengadaan bus, operator dan badan pengawas dari pemerintah. “Bus dan operator bisa dari pengusaha, sedangkan Pemkot hanya sebagai melakukan pengawasan melalui badan yang ditunjuk,” paparnya.

Dia berharap, pemerintah tidak menjadi pesaing bagi warga atau pengusaha yang hidup di wilayahnya sendiri, apalagi membunuh bisnis transportasi yang sudah ada sejak dulu.

Dia menyebutkan, lebih dari 2.000 jiwa yang menjadi pengusaha dan operator transportasi umum di Semarang. “Mereka menggantungkan perutnya ke pekerjaan itu. Jika tiba-tiba dihapuskan, mau dikemanakan mereka?” ungkapnya.

Pemerintah diharapkan mempunyai grand scenario tentang transportasi dan tidak hanya melihat permasalahan transportasi dari fisik saja, melainkan juga menengok ke masalah kemanusiaan.

Mengenai kelayakan jalan angkot, Organda sudah menyerahkan semuanya ke pemerintah. Jika ada angkot yang kurang layak jalan, berarti pengawasan perlu diperketat oleh pemerintah demi nyamannya penumpang. (ade)

You might also like

Comments are closed.