Home > METRO BERITA > METRO GAYA > Komunitas > Patung Bayi Bugil Berlumuran Kopi Ini Dibanderol Rp 7 M

Patung Bayi Bugil Berlumuran Kopi Ini Dibanderol Rp 7 M

METROSEMARANG.COM – Sebuah patung bayi bugil cukup menyita perhatian para penikmat seni yang datang dalam gelaran pameran lukisan kopi di Nescology Jalan Tambora, Semarang, Minggu (21/8). Bahkan, beberapa pengunjung penasaran dengan pahatan lekuk tubuh bayi yang berpose telanjang bulat dan dianggap sangat mirip dengan aslinya.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Saya baru sadar kalau ternyata ada patung bayi bugil yang dipajang di pameran ini,” kata Suhendro, penggandrung seni asal Blora kepada¬†metrosemarang.com.

Ia bilang tak rugi datang jauh-jauh dengan istrinya untuk mengintip pameran lukisan kopi di Nescology. Sebab, selain mata dimanjakan dengan bingkai-bingkai lukisan yang sarat tema anti kekerasan anak. Ia juga tertarik melihat karya instalasi yang dipajang di situ.

Sementara itu, karya patung bayi bugil yang berlumuran cairan kopi itu nantinya akan dilelang oleh panitia dengan harga fantastis mencapai Rp 7 miliar.

Kondang Sugito, pemilik patung tersebut mengaku senang bisa terlibat dalam acara pameran lukisan kopi. Apalagi, ia takjub dengan perkembangan dinamika seniman lokal yang ia sebut sebagai gebrakan besar dalam mengeksplor seni pahatan.

“Patung itu bernama ‘Bayi yang Kelima Miliar’. Sedangkan merpati di tangan bayi simbol juru selamat untuk mendamaikan dunia. Sebuah mahakarya yang pernah dibawa ke konferensi perdamaian di PBB pada 1984 silam,” akunya.

Ia menganggap, patung bayi bugil itu cocok dengan tema anti kekerasan anak yang kini banyak diekspos oleh media massa.

“Kekerasan anak merupakan isu yang sentral sehingga banyak lembaga hukum yang tumbuh untuk memberikan pendampingan. Sehingga, saya punya ide membuat patung bayi untuk menyampaikan pesan bahwa anak-anak di dunia sangat menyita publik dan butuh perhatian dari kita semua,” terangnya.

Patung yang semula dibuat pada 1985 silam pun akhirnya kembali diboyong ke Nescology untuk menarik perhatian masyarakat. “Jika tahun 1985 sensus PBB menyebutkan angka kelahiran bayi mencapai 5 miliar. Maka tahun ini, saya perkirakan pertumbuhannya menembus angka 7 miliar dan hal itu yang mendasari saya melelangnya seharga Rp 7 miliar,” tegasnya.

Ia berharap, panitia acara kembali menghelat ajang serupa di tahun berikutnya sehingga aura berkesenian di Kota Lumpia kian menguat didukung potensi seniman yang ada saat ini.

Meski begitu, Ika Camelia, Direktur Yayasan Setara, menyayangkan ada segelintir orang yang justru memperalat anak untuk berbuat kejahatan sehingga membuat mereka masuk ke dalam penjara.

Ia juga ingin gerakan anti kekerasan anak akan terus digalakkan hingga tak ada lagi tindak kejahatan tersebut. “Karena itulah, kita terus-menerus memberi pembekalan bagi narapidana anak dengan berbagai keterampilan agar dapat hidup lebih baik saat menghirup udara bebas nanti,” tukasnya. (far)