Home > METRO BERITA > Pedagang Korban Kebakaran Pasar Waru Belum Bisa Berjualan

Pedagang Korban Kebakaran Pasar Waru Belum Bisa Berjualan

METROSEMARANG.COM – Duka mendalam masih dirasakan pedagang korban kebakaran Pasar Waru di Sawah Besar, Kota Semarang. Selain tempat berjualannya habis terbakar barang dagangan mereka juga ikut ludes dilalap api. Sehingga sampai saat ini tidak bisa berjualan.

Sejumlah pedagang korban kebakaran Pasar Waru masih mengais sisa kebakaran di bekas lapaknya yang ludes terbakar, Minggu (20/11). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh
Sejumlah pedagang korban kebakaran Pasar Waru masih mengais sisa kebakaran di bekas lapaknya yang ludes terbakar, Minggu (20/11). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Minggu (20/11), para pedagang masih mengais sisa kebakaran di bekas lapaknya yang rata dengan tanah. Mengambil timbangan, ember, piring, dan barang lain yang bisa diperbaiki dan digunakan. Juga barang yang hangus terbakar tapi masih bisa dijual ke pengepul rosok pakai karung.

Salah satunya pedagang yang bernama Herman (45), yang sibuk mengais sisa kebakaran di gudangnya bagian pinggir pasar yang ludes terbakar. Dia mengumpulkan timbangan, galon, jeriken, dan lainya kemudian dibawa dengan becak yang disewa ke rumahnya.

‘’Semua barang dagangan di dalam gudang tidak bisa diselamatkan karena saat tiba pasar sudah rata dilalap api, tidak ada satupun,’’ kata warga yang beralamat di Petompon Jalan Kaligawe Semarang ini.

Sebanyak 3 ton beras, gula pasir 1,5 ton, mi instan 67 dus, dan minyak goreng 300 kilogram di gudang ikut terbakar. Karena sebelum kebakaran baru saja kulakan barang-barang tersebut. ‘’Habis semua tidak tersisa, kerugian sekitar Rp 50 jutaan’’ imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.

Dia mengaku kini tidak bisa berjualan, barang dagangan habis dan modal juga habis. Hanya tersisa sedikit di kios orang tuanya yang juga ada di Pasar Waru tapi tidak ikut terbakar. Harapannya hanya tersisa kepada pemerintah agar bisa secepatnya membantu. Beruntungnya dia mengaku tidak lagi memiliki pinjaman uang di bank.

Berdagang merupakan satu-satunya sumber pendapatan keluarganya. Karena itu, berharap pemerintah segera mewujudkan janji membangunkan lapak sementara dan membantu permodalan.

Pedagang lainnya Ngatman (50) menyampaikan hal yang sama. Dia berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tidak hanya memberi janji-janji saja untuk membantu pedagang seperti saat kebakaran Pasar Waru tahun 2011.

‘’Saat itu kami membangun lagi kiosnya sendiri tidak ada bantuan pemerintah. Kami berharap tidak hanya dibantu membangun lapak sementara tapi hutang kami di bank bisa diperpanjang jatuh temponya,’’ kata pedagang yang mengaku masih memiliki hutang di bank BRI Rp 2 juta.

Lapak dan barang dagangan pedagang sembako yang ada di tengah pasar ini ludes terbakar. Dia tidak berani untuk pinjam modal lagi di bank karena takut tidak bisa membayar. (duh)