Home > METRO BERITA > Pelajar Semarang Gemar Akses Informasi Reproduksi Seksual lewat Situs Porno

Pelajar Semarang Gemar Akses Informasi Reproduksi Seksual lewat Situs Porno

METROSEMARANG.COM – Sejumlah pelajar setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Semarang diketahui banyak yang mengakses konten situs berbau pornografi dengan modus mendapatkan akses informasi mengenai organ reproduksi seksual.

Ilustrasi

Hal tersebut diungkapkan Gabriella Devi Benecdita, seorang peneliti Pusat Kajian Gender dan Seksualitas dari FISIP UI, seusai mengungkap fakta-fakta terbaru hasil penelitiannya, di kantor BKKBN Jalan Pemuda Semarang, Jumat (24/2).

Devi, panggilannya telah melakukan sampling penelitian terhadap 500 siswa SMP yang ada di pinggiran kota dan sejumlah warga di dua kecamatan.

“Saya melihat ada perubahan perilaku pada remaja berusia 11 hingga 24 tahun yang belum mendapat pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi seksual secara komprehensif,” kata Devi.

Ia berpendapat banyak pelajar yang tertarik terhadap pengetahuan tubuhnya tapi apa yang mereka lakukan cenderung salah kaprah. Ia bahkan menyebut konten porno jadi satu-satunya alat untuk mendapat pengetahuan terkait reproduksi seksualnya.

Hal itu ia temukan saat meneliti ke sekolah-sekolah dan sebagian komunitas anak muda. “Padahal seharusnya sekolah berperan penting terhadap pengetahuan siswa akan alat reproduksi terutama melalui pelajaran misalnya Biologi atau Bimbingan Konseling,” urainya.

Remaja era masa kini, katanya cenderung tertarik pada persoalan tubuhnya seperti menstruasi dan perkembangannya. Namun minim pengetahuan soal gender dan hak reproduksi.

“Rekomendasi dari penelitian ini adalah sekolah harus memberikan pendampingan dan pembinaan agar siswa tidak salah pengetahuan soal reproduksinya,” bebernya.

Sedangkan Elizabeth SA Widiastuti, Direktur Eksekutif PKBI Jateng, mengaku atas temuan tersebut, maka sepanjang tahun ini pihaknya akan mengadakan program pendampingan secara masif untuk remaja di tiga kecamatan dan sembilan sekolahan.

“Harapannya remaja bisa mengakses dan mendapat pengetahuan soal reproduksi dengan baik dan benar,” kata Elisabeth.

Tujuan pendampingan agar remaja mengetahui soal relasi gender sehingga tidak salah dalam pergaulannya. Selama ini pengetahuan yang diperoleh selain dari internet, hanya berasal dari guru dan orangtua. (far)