Home > METRO BERITA > Pemkot Ancam Cabut Hak Guna Lapak jika Tak Kunjung Ditempati

Pemkot Ancam Cabut Hak Guna Lapak jika Tak Kunjung Ditempati

METROSEMARANG.COM – Langkah tegas mulai dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terkait pedagang pasar tradisional yang tidak mau menempati lapaknya. Jika tetap tidak mau menempati maka lapak pedagang akan diminta kembali oleh pemkot.

Pasar Bulu terlihat lengang. Konsep pasar modern belum mampu menarik minat pembeli. Foto: metrosemarang.com/dok

Langkah tegas itu terutama ditujukan kepada para pedagang Pasar Bulu yang berada di tengah kota. Pasar yang dibangun dengan dana miliaran rupiah itu terlihat sepi karena banyak lapak atau kios terutama di lantai atas kosong tidak ditempati pedagangnya.

”Jangan sampai pasar yang menghabiskan miliaran rupiah itu kondisinya sepi. Karenanya untuk mempercepat penataan pasar kami telah sosialisasi kepada para pemilik kios untuk segera membuka kiosnya,” kata Kepala Dinas Pedagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Jumat (6/1).

Setelah sosialisasi, pedagang diberi waku hingga hari Selasa (10/1) mendatang untuk menempati lapak atau kiosnya. Bagi yang tetap membandel tidak mau membuka maka akan dicabut izinnya kembali oleh Dinas Perdagangan.

”Lapak dan kios itu milik pemkot dan mereka menempatinya gratis. Jika tetap tidak mau menempati ya terpaksa izinnya akan diambil lagi dan kami berikan kepada pedagang lainnya,” kata Fajar.

Pihaknya juga akan meminta Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Bulu mengonsep penataan pasar seperti apa. Sehingga sesuai dengan yang diharapkan pedagang.

Ke depan untuk menghindari masalah seperti ini terjadi, kata Fajar, revitalisasi pasar tradisional akan lebih melibatkan pedagang dan tokoh masyarakat sekitar.

Langkah tegas terkait pedagang yang tidak mau menempati pasar setelah dibangun juga pernah disampaikan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Hendi, sapaan akrabnya, siap menawarkan Pasar Rejomulyo ke pedagang lain jika pedagang pasar ikan tetap tidak mau menempati lapak dan kiosnya yang sudah selesai dibangun. (duh)

Tinggalkan Balasan