Home > METRO BERITA > METRO JATENG > Penambangan Bahan Semen di Kendeng Sudah Dikaji secara Matang

Penambangan Bahan Semen di Kendeng Sudah Dikaji secara Matang

METROSEMARANG.COM – PT Semen Gresik (Semen Indonesia Group) menyebut pemanfaatan bahan baku tambang yang diambil di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah telah melalui proses panjang dan telah dikaji oleh para ahli.

Warga asli Kendeng yang bekerja di pabrik semen Rembang. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Warga asli Kendeng yang bekerja di pabrik semen Rembang. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

Head of Engineering and Construction PT Semen Gresik Heru Indra Wijayanto mengatakan dalam pengambilan bahan baku semen, sudah dilakukan penghitungan cermat oleh pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), termasuk dari deposit bahan baku dalam desain penambangan untuk semen.

“Kita hanya diperbolehkan menambang batu kapur sedalam 100 meter di luas lahan sekitar 500 hektare yang diperkirakan baru habis dalam 130 tahun,” kata dia di Pabrik Semen Rembang, Senin (22/8).

Dikatakan Heru, selama penambangan, ada empat bahan baku yang diperlukan untuk membuat semen. Di antarnya berupa batu kapur sebanyak 80 persen, tanah liat 18 persen, serta sisanya  pasir besi dan silika.

“Tanah lempung juga baru habis 75-80 tahun mendatang. Pola penambangan juga akan dilakukan secara bertahap per blok. Jadi, satu blok selesai, direhabilitasi, demikian seterusnya,” imbuhnya.

Sementara itu, tak jauh berbeda dengan pabrik semen Tuban, lahan bekas penambangan nantinya akan direhabilitasi kembali atau dihijaukan sehingga bisa dimanfaatkan kembali untuk pertanian. Selain itu bekas galian akan dijadikan embung air yang berfungsi sebagai irigasi.

“Selain itu untuk pembuatan semen kita tidak membutuhkan banyak air. Karena kita memakai proses kering. Air hanya digunakan untuk proses pendinginan,” ujarnya.

Hingga saat ini pihaknya juga telah membuat empat sumur pantau untuk melihat debit air di Pegunungan Kendeng. Hasilnya pun sejauh ini, tidak ada perubahan. “Bahkan jika dilihat dari pabrik di Tuban, setelah 20 tahun proses penambangan, debit air justru meningkat,” tandasnya. (yas)