Home > METRO BERITA > Penanganan Banjir dan Rob di Semarang Butuh Rp 600 Miliar Per Tahun

Penanganan Banjir dan Rob di Semarang Butuh Rp 600 Miliar Per Tahun

METROSEMARANG.COM – Banjir dan rob sudah menjadi permasalahan klasik di Kota Semarang. Untuk menanganinya Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terbatas kemampuan anggarannya sehingga tidak kunjung selesai. Setiap tahun idealnya kebutuhan anggaran mencapai Rp 600 miliar.

Banjir rob di Jalan Barito Utara. Penanganan banjir dan rob membutuhkan Rp 600 miliar per tahun. Foto: metrosemarang.com/dok
Banjir rob di Jalan Barito Utara. Penanganan banjir dan rob membutuhkan Rp 600 miliar per tahun. Foto: metrosemarang.com/dok

Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi dalam diskusi ‘Menyiasati Rob dan Banjir Kota Semarang’ di Hotel Dafam Semarang, Rabu (9/11). Tapi setiap tahun anggaran yang dialokasikan Pemkot dan DPRD Kota Semarang hanya sebesar Rp 135 miliar.

Anggaran tersebut diberikan kepada Dinas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA-ESDM). Untuk kegiatan perawatan saluran, sungai, antisipasi banjir, rob dan lainnya. Diakui anggaran Rp 135 miliar itu masih sangat kurang.

”Bagaimana lagi, kebutuhan dasar masyarakat Kota Semarang tidak hanya soal penanganan banjir dan rob. Tapi ada masalah pendidikan, kesehatan, dan lain-lain,” katanya. Sementara APBD Pemerintah Kota Semarang sendiri hanya sebesar Rp 4,1 triliun.

Harapannya, pengalokasian Rp 135 miliar itu bisa ditambah dari subsidi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Seperti dalam rencana normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang fisiknya akan dimulai 2017 dengan perkiraan kebutuhan anggaran Rp 1 triliun lebih.

”Selain itu, untuk mencegah banjir dan rob perlu kesadaran masyarakat juga untuk merubah mindset. Seperti tidak membuang sampah di sungai, saluran, ikut menjaga kebersihan lingkungan, dan lainya,” tegas Supriyadi.

Pembicara lainnya, Pakar Hidrologi dari Undip Semarang Nelwan mengatakan, rob belum dikenal di masyarakat Kota Semarang tahun 1980an, rob baru terjadi setelah kawasan pesisir Semarang digunakan untuk permukiman seperti di Tanah Mas, yang dulunya merupakan daerah tambak.

”Setelah itu, baru masyarakat merasakan dan menyadari tanahnya turun kena rob. Penyebab utama rob adalah karena penurunan muka tanah dan garis pantai diutak atik untuk pembangunan,” tegasnya. (duh)