Home > Berita Pilihan > Pendukung dan Penolak Pabrik Semen Ngotot Bertahan di Gubernuran

Pendukung dan Penolak Pabrik Semen Ngotot Bertahan di Gubernuran

METROSEMARANG.COM – Pro kontra pendirian pabrik semen di Rembang terus bergulir. Hari ini, Selasa (27/12), massa pendukung pabrik semen kembali menggelar aksi di depan kantor Gubernur Ganjar Pranowo. Seolah tak mau kalah dengan massa yang menolak pabrik semen, mereka juga siap ‘menetap’ di Gubernuran sampai keluarnya izin pembangunan pabrik kembali dilanjutkan.

Aksi Laskar Brotoseno, pendukung pabrik semen di depan Gubernuran, Selasa (27/12). Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi 

Massa yang mengatasnamakan Laskar Brotoseno ini menyerukan tuntutan agar pabrik semen benar-benar dibangun di Rembang. Mereka menilai keberadaan pabrik tersebut bakal meningkatkan perekonomian warga setempat.

Koordinator aksi, Wahyudi mengatakan, dia dan rekan-rekannya bertekad untuk mendukung berdirinya pabrik semen. “Itu semua adalah tekad bulat kami demi memakmurkan Jawa Tengah pada umumnya,” katanya, sembari menambahkan jika aksinya tersebut juga didukung aliansi budaya yang berasal dari Semarang, Solo dan Yogyakarta.

Laskar Brotoseno didukung oleh Aliansi Budaya Masyarakat Jawa Tengah untuk Rembang Bersatu. Dalam aksinya, mereka juga menampilkan beragam atraksi kesenian Jawa Tengah. Di antaranya, tarian barong, tari paying, kadroh hingga jaran kepang.

Dia menegaskan, dari awal pendirian pabrik semen masyarakat di sekitar lokasi telah mendapatkan berbagai bantuan. Pembangunan infrastruktur desa juga telah terbantu oleh pabrik semen.

“Sudah jelas dari proses awal pembangunannya, yakni perekrutan tenaga kerja, pembangunan-pembangunan saluran air. Warga yang dulunya petani hutan sekarang lahannya diganti lahan sawah,” imbuh Wahyudi.

Laskar Brotoseno juga berencana akan menetap di Gubernuran hingga keputusan Gubernur Jawa Tengah memberikan izin pabrik Semen Indonesia di Rembang beroperasi. “Laskar Brotoseno untuk terus mengawal, mendukung beroperasinya pabrik semen di Rembang,” tegasnya.

Sementara itu, massa penolak pabrik semen yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) yang sudah sepekan menetap di depan Gubernuran juga ngotot untuk bertahan. Meskipun tenda yang didirikan sudah dibongkar oleh Satpol PP, mereka tetap bertekad menetap di Gubernuran.

Massa penolak pabrik semen masih ngotot bertahan di Gubernuran. foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

“Tenda kita dibongkar oleh Satpol PP, dengan alasan mengganggu pejalan kaki dan membuat pemandangan jadi kumuh. Makanya kami meminta pada sedulur-sedulur Semarang, ayo payungi ibu-ibu Kendeng jangan sampai kepanasan,” kata Joko Prianto, koordinator JM-PPK.

Aksi penolakan pabrik semen di Rembang diikuti oleh warga dari Rembang, Pati, Blora, dan Kudus. “Kebetulan hari ini ada temen-temen punk yang ikut bersolidaritas mendukung gerakan Kendeng,” ucapnya.

Dia juga mengeluhkan atas lambannya tindakan yang dilakukan Gubernur Ganjar Pranowo. “Gugatan kan sudah dimenangkan oleh warga, Mahkamah Agung juga sudah memutuskan dimenangkan oleh warga, tapi kenapa Pak Ganjar tidak langsung mencabut ijin, lha ini ada apa?” tandasnya. (fen)