Home > METRO BERITA > Penerapan Jalur Searah Tak Cukup Atasi Kemacetan di Semarang

Penerapan Jalur Searah Tak Cukup Atasi Kemacetan di Semarang

METROSEMARANG.COM – Tahun 2017, beberapa ruas jalan di Kota Semarang akan dibuat searah. Namun untuk menangani kemacetan agar lebih efektif maka parkir di tepi jalan umum juga harus ditangani.

Penataan parkir tepi jalan menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan di Semarang. Foto: metrosemarang.com/dok

Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang, Joko Setijowarno mengatakan, beberapa ruas jalan yang akan dibuat searah, dulunya sebenarnya juga sudah pernah diberlakuan searah. Seperti Jalan Imam Bonjol, Jalan Piere Tendean, Jalan MH Thamrin dan Jalan Gajah Mada.

”Kebijakan arus searah bertujuan untuk melancarkan laju arus kendaraan bermotor. Namun banyaknya gangguan samping atau side friction juga menghambat gerak kendaraan,” katanya, Selasa (3/1).

Gangguan samping yang cukup besar pengaruhnya, lanjutnya, yaitu aktivitas parkir di tepi jalan (on street parking). Parkir di tepi jalan menyita ruang jalan sekitar 30-50 persen kapasitas jalan yang ada. Kerugian yang ditimbulkannya tidak sebanding dengan pendapatan dari retribusi parkir yang diterima.

”Untuk mengurangi aktivitas parkir tersebut, maka harus dibuatkan kantong-kantong parkir. Dengan kantong parkir, akan meningkatkan PAD dari retribusi parkir, menertibkan aktivitas parkir, dan mengembalikan fungsi jalan,” terangnya.

Kemudian, agar aktivitas ekonomi di sepanjang jalan searah tidak berkurang drastis, maka juga perlu contra flow untuk transportasi umum. ”Itu semua perlu sosialisasi terhadap pengguna dan warga sepanjang jalan searah,” katanya.

Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi mengatakan, jalan searah memang sudah diperlukan. Beberapa jalan protokol sudah melebihi kapasitas dan terlihat terjadi kepadatan. Seperti Jalan Pandanaran, Jalan MH Thamrin, dan jalan protokol lainnya.

”Sudah tidak mungkin dilakukan pelebaran jalan lagi di beberapa ruas jalan tersebut. Jadi sudah perlu adanya manajemen lalu lintas dengan menjadikan jalan satu arah,” katanya.

Dengan jalan satu arah diharapkan kamecatan akan terurai. Apalagi, wisatawan dari luar kota maupun dari mancanegara sudah mulai banyak yang berkunjung di Kota Semarang.

Namun selain rekayasa lalu lintas, pemkot juga perlu melebarkan jalan-jalan kampung atau jalan alternatif. Termasuk di wilayah pinggiran agar minimal bisa dilalui kendaraan roda empat.

”Tapi untuk pembatasan kendaraan agar mengurangi kemacetan itu kewenangan Pemerintah Provinsi Jateng. Kalau Pemkot Semarang hanya bisa mengatur jalur atau rekayasa lalu lintas,” katanya. (duh)