Home > Berita Pilihan > Pengunjung Lawangsewu Ketiga Terbanyak Setelah Borobudur dan Prambanan

Pengunjung Lawangsewu Ketiga Terbanyak Setelah Borobudur dan Prambanan

METROSEMARANG.COM – Sarasehan Budaya Dhudhah Semarang Malem Anggara Kasih kembali berlangsung di Lawangsewu, Senin (18/7) malam. Tema malam ini adalah “Labuh Labet Lawangsewu” atau sejarah perkembangan Lawangsewu.

Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

Sebagai pembicara adalah Manajer Museum PT Kereta Api Sapto Hartoyo. Acara yang dimulai pukul 10.00 itu dimeriahkan dengan penampilan musik Komunitas Anggernggon, Kesenian Jawa Unnes, dan Komunitas Pecinta Geguritan.

Sapto memulai ceritanya dengan pembangunan jalur kereta api pertama di Indonesia di semarang pada 1863 – 1867. Jalur itu menghubungkan Semarang dan Purwodadi tepatnya di Desa Tanggungharjo. Semula kantor kereta api berada di Stasiun Samarang di daerah spoorland.

Jalur lain kemudian dibangun menghubungkan Tanggungharjo-Jogja dan Tanggungharjo-Solo. Karena penambahan jalur otomatis jumlah pegawai bertambah. Akhirnya dibangun gedung baru yang kelak dinamakan Lawangsewu pada tahun 1903 sampai 1907.

Sapto tidak tahu pasti kapan nama Lawangsewu pertama kali muncul. Padahal jumlah pintunya tidak mencapai seribu. “Kurang lebih ada 923 daun pintunya. Mungkin disebut Lawangsewu karena orang Jawa suka menggampangkan penyebutan,” katanya.

Sejak 1992, Lawangsewu dimasukkan sebagai bangunan cagar budaya melalui surat keputusan wali kota. Lawangsewu kemudian terkenal sejak muncul di salah satu televisi swasta dalam acara Dunia Lain. Waktu itu digambarkan bangunan ini penuh penghuni ghaib.

Kesan seram semakin kental setelah bangunan ini menjadi tempat pembuatan beberapa film horor. Tapi menurut Sapto Hartoyo, jin dan demit itu tidak ada. “Selama saya mengelola lawangsewu belum pernah melihat penampakan”.

Bahkan bangunan di bawah tanah yang populer dengan sebutan penjara jaman Jepang itu, menurut Sapto adalah penyebutan yang salah. Sebab Lawangsewu sejak mula diperuntukkan sebagai kantor.

“Buat apa kantor kereta api punya penjara. Tapi memang ada cerita konon waktu zaman pendudukan Jepang, basement itu dipakai untuk penjara. Itu yang dipercaya orang meski belum ada sumber resminya,” katanya.

Setelah direstorasi oleh PT Kereta Api Indonesia, Lawangsewu semakin menyedot perhatian masyarakat. Pada tahun 2015 lalu, jumlah wisatawan mencapai 680 ribu. “Jumlah ini terbanyak ketiga di Jateng setelah Borobudur dan Prambanan,” kata Sapto.(byo)