Beranda METRO BERITA Fokus Metro Semarang Pengusaha Angkot Ingin Pemkot Lebih Bijak

Pengusaha Angkot Ingin Pemkot Lebih Bijak

BERBAGI

 

Pengusaha angkutan umum akan makin terjepit jika angkot benar-benar dihapuskan. Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha
Pengusaha angkutan umum akan makin terjepit jika angkot benar-benar dihapuskan. Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha

BUKAN hanya sopir yang mengeluhkan soal wacana penghapusan angkutan kota, pengusaha angkot pun mengungkapkan keluhan yang sama. Mereka sudah telanjur kredit kendaraan untuk menjalankan bisnisnya.

Salah satu juragan angkot wilayah Sampangan, Tarno, mengatakan, bukan hal yang tidak mungkin bagi pemerintah untuk membuat kebijakan penghapusan angkot. Namun, menurutnya, selain mempertimbangkan para sopir juga perlu menengok kondisi pemilik angkot.

“Kebanyakan juragan angkot masih memiliki tanggungan kepada bank. Biasanya untuk mobil second per bulannya ngangsur Rp 1,3 juta hingga 1,7 juta, dan mobil baru sekitar Rp 2 juta sampai 4 juta,” keluhnya.

Sedangkan untuk kelayakan angkot beroperasi, sebenarnya sudah ada Uji Kelayakan Kendaraan (KIR), dan angkot-angkotnya layak untuk jalan. “Setiap enam bulan sekali membayar Rp 200 ribu per angkot kepada Dinas Perhubungan. Di situ juga ada pemeriksaan kondisi angkot, seperti rem, riting, onderdil, dan lainnya,” jelasnya.

Salah seorang penumpang angkot, Nirmala mengatakan kurang setuju bila angkot dihapus. Namun, lanjutnya, untuk mengurangi kemacetan memang perlu adanya pengurangan angkot.

“Ya gak setuju, karena itu sangat memberatkan para sopir angkot. Mungkin bisa dilakukan pengurangan bagi angkot yang sudah tidak layak. Dan untuk BRT mungkin bisa ditambah,” ungkapnya. (ans)

 

 

BERBAGI