Home > METRO BERITA > METRO GAYA > Komunitas > Penta K Labs: Narasi Kemijen, Membedah Permasalahan Kota dengan Pendekatan Artistik

Penta K Labs: Narasi Kemijen, Membedah Permasalahan Kota dengan Pendekatan Artistik

METROSEMARANG.COM – Kampus, komunitas, kampung, kota, kita (penta – K) adalah project visual dua tahunan yg diselenggarakan Hysteria. Ini adalah project pengembangan dari Tengok Bustaman yang telah berlangsung selama dua kali selama 4 tahun belakangan.

narasi kemijen

Penta K Labs ditujukan jadi jembatan antara kampus, komunitas, kampung, kota dan kita; mendekatkan praksis seni dan gerakan intelektual pada persoalan perkotaan atau sekitar tempat tinggal dengan titik berat pada produksi artistik. Namun tak hanya produksi artistik, program ini juga menekankan pentingnya kerja-kerja kolaboratif lintas disiplin sehingga pendekatan terhadap kasus lebih komprehensif.

Seperti diketahui persoalan perkotaan Semarang, misalnya penanganan rob, banjir, alih fungsi lahan, normalisasi kanal, membutuhkan banyak pendekatan supaya alternatif solusi yang diberikan lebih varitatif sehingga masyarakat mempunyai banyak pilihan. Berkaca dari project pertama Hysteria bersama Rujak Center for Urban Studies di Kampung Bustaman dan Kampung Tugurejo pada tahun 2012 telah menginisiasi proyek kampung berdasar lokakarya dinamika pengetahuan perkotaan. Salah satu outputnya adalah festival seni kampung yang selain bertujuan sebagai sarana distribusi pengetahuan juga merupakan bagian dariplacemaking[1]. Keikutsertaan warga dalam menghadapi persoalan perkotaan dan kemauannya untuk berkontribusi tak bisa dilepaskan dari rasa kepemilikan (sense of belongingness) warga terhadap kota , untuk meningkatkan rasa memiliki itu membangun pengetahuan pertama-tama tentang diri mereka sendiri menjadi penting. Setelah itu placemaking bisa menjadi jalan masuk untuk mengaktifkan kembali ruang-ruang dialog warga, membicarakan masa depan mereka dan juga kota.  Ada banyak cara yang ditempuh, salah satunya dengan memperbanyak ruang pertemuan warga melalui festival, misalnya.

Pada proyek pertama ini, Kampung Kemijen dipilih karena kompleksitas persoalannya terutama berkaitan dengan isu rob. Bicara soal rob tidak hanya membincang kondisi Kemijen semata-mata, namun juga kegagalan sistem perkotaaan bertahun-tahun mengatasi persoalan drainase dan lingkungan.

Namun alih-alih bicara rob, ‘Penta_K Labs: Narasi Kemijen’ mengajak audiens dan seniman membicarakan kekayaan kampung dan hal-hal inspiratif dibalik seluruh penderitaan yang mendera warga. Bahwa dalam keadaan paling terjepit sekalipun mereka masih mempunyai kebanggaan dan daya tahan yang luar biasa. Modal itulah yang sebenarnya bisa menjadi model untuk pengembangan kawasan berkelanjutan yang partisipatoris.

Penta-K Labs rencana diadakan dua tahun sekali dengan selalu berpindah-pindah tempat, prioritas di kampung. Project ini mengedepankan kerja kolaborasi, partisipatif, eksperimen, dan isu yang relevan dengan kondisi kekinian.

Event ini dibagi menjadi beberapa bagian event. Yakni pameran utama, ‘Yang Sejalan’, dan Pesta Rakyat. Dalam pameran utama, Hysteria memilih seniman yang akan terlibat bersama warga untuk merespons hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh tim Hysteria. Yang Sejalan adalah event di luar pameran yang diinisiasi oleh Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (planologi) Unissula Semarang bersama Hysteria. Kegiatannya berupa workshop, forum, maupun program mandiri yang dibuka secara umum. PWK Unissula mengorganisir program ini dengan menyediakan tema untuk disodorkan pada relawan baik dari institusi maupun komunal yang perhatian pada isu yang diangkat di Kemijen. Adapun Pesta Rakyat yakni kegiatan inisiatif warga dalam hal ini lomba prahu Kalibanger yang akan diikuti oleh warga setempat.

Seniman yang terlibat dalam program ini antara lain Qori, Zone of Street Art, Ayolah Ngapain, Muhammad Fatchurofi, Debby Selviana, Purna Cipta Nugraha, Annisa Rizkiana kolaborasi dengan Fern (Aussie), Angga Cipta (Jkt), Isrol Medialegal, Shopping List, Terasering (YK), Jungkat Jungkit (Surakarta), Damar Kurung (Gresik). (*)