Home > METRO BERITA > Perajin Barongsai di Semarang Kebanjiran Pesanan Jelang Imlek 2016

Perajin Barongsai di Semarang Kebanjiran Pesanan Jelang Imlek 2016

Perajin barongsai di Semarang mulai kewalahan menerima order saat mendekati perayaan Imlek. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Perajin barongsai di Semarang mulai kewalahan menerima order saat mendekati perayaan Imlek. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

METROSEMARANG.COM – Menjelang perayaan Imlek 2016, beragam pernak-pernik khas budaya Tionghoa mulai bertebaran di kawasan Pecinan Kota Semarang. Mulai dari souvenir, hio hingga replika barongsai dan liong dengan mudah dijumpai di pinggir jalan kampung Cina tersebut.

Pada umumnya, para penjual pernak-pernik Imlek membuat sendiri barang dagangannya. Satu di antaranya adalah Sutikno, lelaki peranakan Tionghoa yang telah menekuni pembuatan kepala barongsai di rumahnya, Gang Seteran Tengah, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.

Saat ditemui metrosemarang.com di rumahnya, meski usianya telah menginjak angka 75 tahun, Sutikno tampak cekatan menggoreskan pola-pola warna pada kepala barongsai. “Saya sudah sejak 1998 silam membuat pesanan barongsai saat Imlek,” kata Sutikno, Selasa (2/2).

Di Tahun Monyet Api kali ini, Sutikno mengaku sudah ada peningkatan pemesanan sampai 10 persen dibandingkan tahun lalu. “Kalau hari biasanya kita membuat satu buah saja, sekarang kita dapat pesanan membuat sampai lima buah,” sahutnya.

Bagi Sutikno, membuat kepala barongsai tak bisa sembarangan. Ada pola khusus agar kepala barongsai terlihat kokoh saat dimainkan. “Kita bikin pelan-pelan. Begitu pesanan selesai semua kita baru terima lagi. Tidak bisa sembarangan membuat barongsai,” ungkap pria berperawakan kecil tersebut.

Pesanan barongsai yang datang kepadanya saat ini kebanyakan dari luar kota. Sutikno menyebut seminggu jelang Imlek ia dapat pesanan dari Madiun dan Pasuruan. Diluar itu, pesanan terus menghampirinya baik dari  NTT, Manokwari, Sampit hingga Pontianak.

“Menjelang Tahun Baru Cina orderan sangat ramai sampai-sampai pada mengantre agar dapat barang yang paling bagus,” akunya.

Pemesan barongsai kebanyakan dari pengelola wihara, klenteng dan perseorangan. Menurutnya, butuh waktu seminggu untuk menyelesaikan pembuatan kepala barongsai. “Saya dibantu tiga pegawai. Dan puncak pesanan tepat di hari H Imlek 8 Februari 2016,” tukasnya.

Agar kokoh saat dipakai atraksi, barongsai dibuat dari rotan dan kayu pilihan. Barongsai buatannya sejak lama telah mahsyur di berbagai kota Indonesia karena kualitasnya terjamin.

Dengan bobot total 3 kilogram, ia menjual sebuah barongsai seharga Rp 2 juta. “Harganya tak pernah naik,” katanya. Sedangkan untuk kepala barongsai yang terbuat dari  bulu domba dijual Rp 5 juta,” ucap Sutikno. (far)

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link