Home > METRO BERITA > Peringati Nuzulul Quran dengan Membaca Kitab Daun Lontar

Peringati Nuzulul Quran dengan Membaca Kitab Daun Lontar

METROSEMARANG.COM – Suara para santri lamat-lamat mengalun lembut dari balik tembok Aula Ponpes Al Mutazam, Pudakpayung Banyumanik, Semarang. Tepat pada Sabtu (10/6) malam, mereka telah khatam membaca Alquran sebanyak 30 juzz.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Dengan dipandu KH Khamami sebagai pengasuh Ponpes Al Mutazam, para santri tampak khusyuk duduk bersila sembari merampungkan pembacaan Alquran. Ada dua barisan santri yang khataman Alquran. Di sebelah barat terdapat puluhan santri pria. Sedangkan sisi timur diisi santriwati.

“Semuanya ada 150 santri yang sudah khataman Alquran di malam ini,” kata KH Khamami kepada metrosemarang.com.

Dalam khataman Alquran, ia pun memandu bacaan dengan menggunakan sebuah kitab berukuran jumbo. Kitab Alquran yang ia pegang tersebut terbuat dari daun lontar. Pada tiap lembar ayatnya tercium harum semerbak wangi khas daun lontar.

Mengisi malam Nuzulul Quran dengan membaca kitab daun lontar, memang terlihat berbeda. Khamami menceritakan bahwa Quran daun lontar merupakan warisan walliyulah asal Pulau Garam Madura yang dibawa langsung oleh keluarga salah satu santrinya.

Khamami bilang usia kitab daun lontar ini sudah ratusan tahun. Setiap hari ia membacanya dua juzz sehari.

“Kebetulan ini pas khataman Quran. Maka kami ajarkan ada banyak makna yang dapat digali dari membaca kitab daun lontar. Ini tentunya sangat berkesan bagi para santri yang tinggal di sini,” ungkap Khamami.

Ia menerangkan keberadaan kitab daun lontar merupakan mukjizat yang diturunkan Allah SWT kepada para walliyulah pada masa lampau. Karenanya, ia bilang para santri diajak untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah sembari giat membaca tiap ayat yang terkandung dalam Alquran.

“Kitab daun lontar isinya sama dengan surat pada Alquran lainnya. Hanya saja ini sarat makna sejarahnya. Kami memotivasi kepada setiap santri bahwa Alquran itu mukjizat, banyak berkah bila dipelajari sambil menunggu beduk berbuka puasa,” paparnya.

Sejak setahun dititipkan di pesantrennya, kitab daun lontar ia jaga keawetannya. Setahun sekali, kitab tersebut ia basuh dengan air daun pandan. Agar tak mudah rusak, pada tiap bagian lembaran ayatnya ia bersihkan dengan pandan kering.

“Dan Subhanallah daun lontar ini tidak pernah rusak, justru semakin awet. Acara khataman juga bagian rutin demi memberikan kekuatan, keyakinan bahwa Quran adalah mukjizat bagi umat manusia. Kami ingin mempertajam lagi bacaan ayatnya di malam Nuzulul Quran,” bebernya.

Keberadaan kitab daun lontar saat ini jadi daya tarik tersendiri bagi pesantrennya. Tiap bulan ada banyak santri yang mendaftar lantaran penasaran dengan keunikan kitab tersebut. Mereka, kata Khamami rata-rata ingin mempelajari sejarah panjang kitab daun lontar dan memperdalam ilmu agama di pesantrennya.

“Ketika zaman semakin modern, Alquran  sudah ada di media internet, ternyata pada zaman dahulu kala para wali sudah menuliskannya dengan bahan sederhana. Orang zaman dulu sangat semangat mempelajari Alquran dibanding yang sekarang,” sambungnya.

“Daun lontar jadi kuat ketika guratan-guratan ayatnya dituliskan diatasnya. Sehingga kami menekankan kepada santri bila harus lebih semangat dalam mempelajari Alquran dimana pun berada,” tuturnya. (far)

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link