Home > EXPLORE SEMARANG > Perjuangan Aiptu Sutrisno Kuliahkan Anak dari Nasi Goreng

Perjuangan Aiptu Sutrisno Kuliahkan Anak dari Nasi Goreng

METROSEMARANG.COM – Biaya hidup di kota metropolitan memang tak murah. Banyak orang banting tulang, bahkan tak jarang menghalalkan segala cara agar dapat meraup uang sebanyak-banyaknya.

Aiptu Sutrisno tengah mengolah nasi goreng di warungnya. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Tapi apa yang dilakukan Aiptu Sutrisno benar-benar bertolak belakang dengan hal tersebut. Dengan bermodalkan tekad yang kuat menghidupi anak-anaknya dengan rezeki yang halal, Aiptu Sutrisno tak canggung berjualan nasi goreng di pinggir jalan raya.

Warungnya dengan mudah ditemukan pengguna jalan di depan ruko Jalan Sultan Agung, Semarang. Sutrisno sudah berjualan nasi goreng sejak tiga tahun terakhir untuk membiayai kuliah anak-anaknya. Sepiring nasi ia jual Rp 12 ribu, harga yang murah untuk Kota Semarang.

Tiap malam Sutrisno menyeka peluhnya, ia melayani para pembeli yang mampir ke warungnya.

“Demi dua anak, saya pokoknya mati-matian perjuangkan semua untuk biayai kuliahnya. Lagipula, anak saya kuliah di Fakultas Kedokteran Undip, yang butuh biaya ekstra,” aku pria asli Sidoarjo Jatim ini, Minggu (26/3).

Kedua anaknya bernama Ayu anggraeni butuh biaya kuliah di jurusan Kedokteran Undip dan juga Yulistyo Dewantoro. Mereka tak malu walau sang ayah pontang-panting berjualan nasi goreng di pinggir jalan.

Sutrisno biasanya berjualan nasi goreng selepas dinas dari satuan Unit Inafis Polrestabes Semarang. Diakuinya pula gajinya sebagai polisi tak mampu mencukupi kebutuhan hidup. Sutrisno saban hari harus bersusah payah tambal sulam agar dapurnya tetap mengepul.

Semula ia dibantu kenalannya sewaktu dinas di Akademi Kepolisian (AKPOL) Semarang untuk diberikan lokasi berjualan di depan ruko Jalan Sultan Agung. Temannya terenyuh melihatnya berjualan hingga dini hari.

“Ada teman yang meminjami tempat jualan di sini. Sampai sekarang saya sangat bersyukur sudah bisa jualan nasi goreng,” terang pria yang awalnya hanya punya modal Rp 2 juta untuk berjualan di pinggir jalan.

Apa yang ia lakukan untuk menghidupi keluarganya memang patut diteladani. Dengan hidup pas-pasan di sebuah kontrakan Kampung Srikaton Barat Gang 4 Semarang Barat, ia begitu telaten menjalankan tugasnya sebagai polisi sekaligus ibu bagi kedua anaknya.

“Setiap malam dagangan saya selalu habis. Sangat bersyukur karena jerih payah saya membuahkan hasil,” ungkapnya.

Kini, ia menganggap roda kehidupannya terus berputar. Tak lupa pula ia banyak bersyukur bisa hidup damai dan ternteram bersama anaknya walaupun dengan pendapatan minim.

“Dua anak saya untungnya enggak pernah minder. Mereka tetap mendukung saya jualan nasi,” pungkasnya. (far)