Home > METRO BERITA > Pertama di Indonesia, Semarang Punya Rumah Apung Bebas Banjir dan Rob

Pertama di Indonesia, Semarang Punya Rumah Apung Bebas Banjir dan Rob

METROSEMARANG.COM – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, DR Ir M Basuki Hadimuljono MSc meresmikan rumah apung di Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Jumat (25/11). Bangunan seluas 10 x 14 meter ini merupakan yang pertama di Indonesia.

Rumah apung di Tambakrejo Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Kota Semarang yang diresmikan oleh Menteri PUPR M Basuki Hadimuljono, Jumat (25/11). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh
Rumah apung di Tambakrejo Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Kota Semarang yang diresmikan oleh Menteri PUPR M Basuki Hadimuljono, Jumat (25/11). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Di kawasan Tanjung Mas terjadi penurunan muka tanah 10-20 centimeter per tahun. Dengan mengadopsi rumah apung yang ada di Belanda, teknologi rumah apung ini dinilai bisa membuat terbebas dari rob karena dapat mengikuti permukaan air laut.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR bersama Pemkot Semarang mampu mengerjakan rumah apung ini selama 6 bulan. Dan diklaim dapat menghemat biaya hingga 40 persen dibanding bangunan rumah pada umumnya.

”Rumah apung ini juga mampu bertahan minimal selama 50 tahun. Harapannya bisa ditiru oleh masyarakat sekitar dan wilayah pesisir di Indonesia,” kata Menteri PUPR M Basuki Hadimuljono, usai peresmian dengan pengguntingan rangkaian bunga didampingi Sekda Kota Semarang Adi Trihananto.

Selain dijadikan sebagai balai pertemuan warga, rumah apung ini juga memiliki perpustakaan yang menyediakan beragam buku seperti buku pelajaran hingga buku cerita. Sehingga para pelajar di wilayah ini dapat belajar di dalam rumah apung ini.

Adapun konsep bangunan apung ini dengan Sistem Modular Wahana Apung (Simowa) dengan cara memanfaatkan gaya apung air. Terdiri dari dua bagian yakni bagian ponton dan struktur atas. Ponton terdiri dari foam, besi bertulang dan beton. Sementara struktur bangunan atas menggunakan kombinasi baja barat, baja ringan dan bahan lokal seperti bambu yang sudah diawetkan.

Sedangkan strukturnya berlantai dua dengan konsep bangunan ramah lingkunan, mandiri dalam kebutuhan energi, dan tidak mencemari lingkungan. Di mana lantai bawah dan atas dirancang dengan konsep menyatukan kebutuhan pertemuan warga, perpustakaan hingga penyampaian informasi pemerintah di kawasan tersebut.

Sekda Kota Semarang, Adi Tri Hananto menyampaikan terimakasih pada semua pihak  yang mewujudkan Kampung Bahari Tambaklorok. Rumah apung ini bagian dari pembangunan Kampung Bahari Tambaklorok. Di mana konsep pembangunan kampung bahari memfokuskan pada tiga hal yaitu peremajaan kawasan, pemberdayaan masyarakat, sumber daya lokal.

”Ke depan apabila masyarakat setuju wahana apung ini bisa dikembangkan menjadi hunian apung untuk warga Tambaklorok. Sehingga warga sekitar tidak terbebani lagi biaya untuk meninggikan rumahnya (karena rob),” kata Adi Trihananto. (duh)

Tinggalkan Balasan