Home > METRO BERITA > Polisi Telusuri Dugaan Pemalsuan Dokumen Calon TKI PT GIP

Polisi Telusuri Dugaan Pemalsuan Dokumen Calon TKI PT GIP

image
Suasana evakuasi calon TKI asal Sumba dari penampungan di Jalan Sri Rejeki. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya

SEMARANG – Polisi masih melakukan pengembangan penyelidikan dugaan kasus human trafficking yang dilakukan PT Graha Indrawahana Perkasa (GIP) selaku agen penyalur Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Jika terbukti ada pelanggaran pidana, tempat penampungan calon TKI di Jalan Sri Rejeki No 30, Semarang Barat milik perusahaan tersebut terancam disegel.

Selasa (30/9) siang, tim gabungan dari Polda Jateng, Polrestabes Semarang, Polsek Semarang Barat dan BNP2TKI melakukan pemeriksaan secara langsung di rumah penampungan yang dihuni ratusan calon TKI tersebut. Pemeriksaan itu juga meliputi keabsahan dokumen pemberangkatan TKI dan perizinan milik PT GIP.

Kasubdit IV Renata Polda Jateng, AKBP Sri Sulistiyowati mengatakan, pihaknya akan terus mengembangkan kasus ini. Termasuk memeriksa apakah perusahaan itu mempunyai izin atau tidak. “Kami memeriksa sejumlah dokumen dan memintai keterangan pengurus penampungan,” tuturnya.

Pihaknya menduga adanya pemalsuan data, khususnya terkait ketidaksesuaian usia calon TKI. Jika hasil pemeriksaan ini terbukti ada tindak kecurangan, maka rumah penampungan calon TKI itu bakal disegel. “Saat Ini masih dalam pengembangan, kalau memang terbukti ya akan dilakukan penyegelan,” tandasnya.

Sekadar diketahui, 19 calon TKI asal Sumba Nusa Tenggara Timur melarikan diri dari tempat penampungan di Jalan Sri Rejeki Raya 30 Semarang, Sabtu (27/9) Siang. Calon TKI yang berjumlah 19 orang wanita itu nekat naik pagar setinggi 3 meter dan lari menuju Polsek Semarang Barat tanpa mengenakan alas kaki.

Salah seorang TKI Lusia Baukameti. (20) warga Desa Umboriri, Sumba NTT mengatakan, ia nekat kabur bersama ke-18 temannya karena sudah tidak tahan diberi janji-janji palsu oleh pihak pengelola tenaga kerja tempat ia ditampung.

“Di sana kami tidur di lantai, tidak boleh membawa handphone. Kami di janjiin hanya 21 hari di Semarang, tapi ini sudah lewat dua bulan,” tuturnya saat ditemui di Mapolsek Semarang Barat, Minggu (28/9) siang.

Lusia diberangkatkan dari tempat asalnya tanggal 15 Juni lalu. Awalnya sempat dibawa ke Kupang selama sebulan sebelum akhirnya dikirim ke Semarang. (yas)