Home > Berita Pilihan > Potret SD Ngaliyan 04, Plafon Jebol hingga Guru Nyeker ke Sekolah

Potret SD Ngaliyan 04, Plafon Jebol hingga Guru Nyeker ke Sekolah

METROSEMARANG.COM – Berbeda dengan sekolah dasar di Kota Semarang lainnya, kondisi SD Ngaliyan 04 sangat memprihatinkan. Sekolah yang beralamat di Jalan Raya Pucung, Kecamatan Ngaliyan ini terletak di atas tanah yang bergerak. Untuk bisa mencapai sekolahnya, siswa harus melewati jalan padas dan berlumpur jika turun hujan.

Siswa SD Ngaliyan 04 harus melewati jalan tanah untuk mencapai sekolahnya. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Beberapa waktu lalu terjadi longsor yang mengakibatkan satu-satunya jalan menuju sekolah lumpuh. Jalan selebar kurang lebih 4 meter tertutup oleh longsoran tanah.

Tak hanya itu ketika hujan datang, jalanan menjadi sangat licin. Sepeda motor harus diparkir sejauh kurang lebih 150 meter dari sekolah. Bahkan untuk jalan kaki pun susah.

“Seperti kayak kemarin hujan lebat itu sudah tidak bisa dilalui motor. Jalan kaki pun susah, ini pake sepatu dicopot, ditenteng,” kata Kepala SD Ngaliyan 04, Tugiyan, Kamis (2/3).

Sebelumnya, lanjut Tugiyan, memang ada akses lain yang menghubungkan sekolah tersebut hingga ke Pasar Ngaliyan. “Tapi karena sudah dipakai sebagai kawasan industri, akhirnya kan terputus, dan sekolah ini menjadi terpencil,” imbuhnya.

Gedung sekolah pun berulang kali mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah. Bahkan lantai bisa menggunung dan merenggang. Ruang belajar kelas I juga mengalami kerusakan parah pada bagian plafon akibat pergerakan tanah.

Seperti inilah kondisi salah satu ruang kelas di SD Ngaliyan 04. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Tugiyan berkisah, plafon terjatuh saat proses belajar, namun guru yang saat itu mengajar dengan sigap memperingatkan anak didiknya untuk keluar sehingga tidak ada korban yang terkena plafon.

Tugiyan juga mengatakan, gedung kelas 1 tersebut merupakan bangunan baru. Sekitar 2 tahun lalu gedung tersebut direnovasi.

“Kalau sekolah ini direnovasi dengan biaya yang mahal tetapi kalau kondisinya seperti ini beberapa tahun sudah rusak lagi, jadinya kan malah mubazir,” imbuh Tugiyan.

Selain itu juga terdapat dua ruang kelas yang tak layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran, yakni kelas III dan VI. “Sementara ini tidak memenuhi syarat. Yang kelas III kan hanya beberapa meter lebare, itu bahkan tidak ada fentilasinya, fentilasinya cuman sedikit dilubangi sendiri,” kata Tugiyan.

Saat ini pihak sekolah sedang berupaya untuk mengajukan permohonan relokasi. Karena menurut Tugiyan, jika terus belajar dalam kondisi seperti ini selain membahayakan bagi muridnya juga akan berimbas pada prestasi anak didiknya.

Dua hari yang lalu Tugiyan mendatangi ketua RW setempat guna berkoordinasi perihal pengajuan relokasi gedung sekolah tersebut, namun ia belum bertemu.

“Kan prosedurnya juga panjang, saya harus berkoordinasi dengan tokoh-tokoh masyarakat dengan pak lurah dan sebagainya,” pungkas Tugiyan. (fen)