Home > METRO BERITA > METRO JATENG > Produksi Terus Menurun, Buruh Pabrik Rokok Semakin Galau

Produksi Terus Menurun, Buruh Pabrik Rokok Semakin Galau

METROSEMARANG.COM – Ratusan buruh tampak sibuk dengan pekerjaannya di PT Sari Tembakau Harum, Cepiring, Kabupaten Kendal, Kamis (9/11). Tangan-tangan terampil para buruh yang mayoritas wanita ini dengan cekatan memainkan alat produksi rokok manual. Namun siapa sangka, di tengah kesibukan mereka, terselip keresahan akibat jumlah produksi rokok yang kian hari makin menurun.

Para pekerja PT Sari Tembakau Kendal harap-harap cemas dengan rencana kenaikan cukai tembakau mulai 2018. Foto: metrojateng.com

Nuryanti (34) salah satunya, warga Jambearum, Patebon, Kabupaten Kendal yang sudah 10 tahun lebih menjalani profesi sebagai seorang buruh di pabrik rokok. Belakangan ia merasa resah akibat beredarnya kabar tentang Rancangan Undang-undang (RUU) Pertembakauan yang dinilai akan terus menurunkan jumlah produksi rokok di Indonesia. “Saya takut itu akan mengancam pekerjaan yang saya jalani saat ini, Mas,” ujar Nuryanti.

Ia mengaku sudah bekerja di pabrik tersebut sejak pertama dibuka pada tahun 2006 lalu. Sebelumnya ia menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di Malaysia sejak tahun 2003 hingga 2005. Namun semenjak pabrik tersebut dibuka, ia memilih bekerja di tempat itu dan hingga kini menjadi tulang punggung keluarganya.

Sejak pemerintah mulai menggencarkan kampanye bahaya merokok, Nuryanti merasa resah dan takut kehilangan pekerjaannya. “Ya saya harap pemerintah kalau mau membuat kebijakan difikirkan terlebih dahulu, jangan hanya alasan kesehatan, tapi ini juga untuk keberlangsungan hidup masyarakat banyak,” tutur ibu satu anak itu.

Keresahan juga dirasakan oleh Tri Setyowati (30), warga Montong, Weleri, Kabupaten Kendal yang juga bekerja di PT. Sari Tembakau Harum. Ia kini harus menghidupi keluarganya karena sang suami yang bekerja di salah satu pabrik gula di Kabupaten Kendal terkena PHK pada 2015 lalu.

“Kini suami belum berpenghasilan sejak terkena PHK waktu itu, tapi di rumah sambil menjual es. Saya juga mempunyai dua orang anak, sehingga kehidupan kami bergantung pada pekerjaan di pabrik ini meskipun dengan gaji UMK menurut kami sudah sangat membantu,” ujarnya.

Sementara, Manager Operasional PT. Sari Tembakau Harum, Joko Surono mengatakan beberapa tahun memang mengalami penurunan jumlah produksi. Dari awal yang mampu memproduksi 1.700.000 batang rokok per hari kian tahun berangsur turun hingga kini hanya memproduksi sekitar 600.000 batang rokok perhari.

Tak hanya itu, jumlah pekerjanya pun makin berkurang. Dari awal berdiri tahun 2006 lalu, sekitar 1700 orang, kini perusahaan tersebut hanya mempekerjakan tak lebih dari 650 orang pekerja.

Hal tersebut terjadi salah satunya karena program pemerintah yang mengkampanyekan tentang bahaya merokok sang sedang digencarkan. “Kini terus menurun sejak ada program yang menampilkan tentang penyakit akibat merokok pada kemasan,” ujar Joko.

Dia berharap pemerintah tetap memikirkan kepentingan banyak orang saat membuat kebijakan. Karena pabrik tersebut juga menanggung hidup ratusan keluarga dengan berbagai problematika yang dialami masing-masing pegawai. (fen)

Tinggalkan Balasan