Home > METRO BERITA > METRO SPORT > PSIS 12 Bulan Membangun Kebanggaan, Buyar dalam Hitungan Jam

PSIS 12 Bulan Membangun Kebanggaan, Buyar dalam Hitungan Jam

Perjuangan Fauzan Fajri dkk harus berakhir lebih dini. Foto Metrosemarang
Perjuangan Fauzan Fajri dkk harus berakhir lebih dini. Foto Metrosemarang

SEMARANG – Pupus sudah ambisi PSIS untuk berkompetisi di Indonesia Super League (ISL) musim depan. Perjuangan Fauzan Fajri dkk musim ini harus berakhir lebih dini, setelah Komisi Disiplin memutus mendiskualifikasi PSS dan PSIS sebagai imbas drama di Sleman, akhir pekan kemarin.

PSIS mengusung target tinggi sejak awal pembentukan pengurus pada November 2013 silam. Lolos ISL menjadi target absolut yang diinginkan kubu Mahesa Jenar. Tak heran, klub kebanggaan Kota Lumpia ini langsung bergerak cepat mempersiapkan tim. Bahkan, pergerakan PSIS untuk membangun skuad bisa dibilang yang paling cepat di antara kontestan semua Divisi Utama.

Setelah jajaran manajemen terbentuk, klub yang bermarkas di Stadion Jatidiri ini mulai berburu pemain. Pada 11 November 2013, seleksi tahap awal dimulai, dengan melibatkan pemain-pemain lokal Semarang. Sebanyak 105 pemain dari perwakilan 22 klub anggota Pengcab  PSSI Kota Semarang mencoba peruntungan di bawah kendali Eko Riyadi, Dwi ‘Londo’ Setiawan dan Budi Cipto.

Dari seleksi tahap awal ini menghasilkan 23 nama yang kemudian disodorkan untuk mengikuti seleksi terbuka bersama pemain-pemain undangan, termasuk eks penggawa PSIS musim sebelumnya. Komaedi dan Taufik Hidayat adalah produk seleksi di tingkat pengcab. Kedua pemain ini akhirnya bisa menembus persaingan dan bergabung ke dalam skuad yang dipersiapkan mengarungi kompetisi Divisi Utama 2014.

Setelah mengantongi skuad lokal, Eko Riyadi cs mulai menggeber latihan perdana pada 4 Januari 2014. Sejumlah pemain asing silih berganti ikut seleksi, sebelum akhirnya manajemen sepakat mengikat Ronald Fagundez dan Julio Cesar Alcorse. Tim ini juga sempat menjajal Timnas U-19 pada 14 Februari 2014.

Dengan persiapan yang cukup panjang tersebut, sudah sepantasnya PSIS layak mengakhiri penantian selama lima tahun untuk kembali berkompetisi di ISL. Tim berlogo Tugu Muda itu terdegradasi di musim 2008 dan sampai sekarang belum juga beranjak dari kompetisi kasta kedua.

Impian itu sudah cukup dekat menjadi nyata, sebelum tragedi Sleman merusak segalanya. Lima gol bunuh diri yang terjadi di Stadion Sasana Krida AAU Adi Sucipto itu berbuah sanksi diskualifikasi buat PSIS dan PSS. Kegagalan yang patut diratapi. Kebanggaan yang dibangun selama 12 bulan, mendadak buyar dalam hitungan jam. (*)

Perjalanan PSIS Musim Ini

2 November 2013       Kairul Anwar diberi mandat sebagai Manajer Karteker untuk mempersiapkan tim

5 November 2013       Eko Riyadi ditunjuk sebagai pelatih karteker

11 November 2013     Seleksi pemain lokal Semarang dimulai

16 November 2013     Yoyok Sukawi resmi ditunjuk sebagai pengelola PSIS. Selanjutnya, Yoyok membentuk manajemen yang diisi Kairul                                              Anwar (General Manager), Wahyu ‘Liluk’ Winarto (Manajer Tim), Setyo Agung Nugroho (Direktur Teknik) dan                                                       menetapkan Eko Riyadi sebagai pelatih definitif

4 Januari 2014             PSIS menggelar latihan perdana di Stadion Jatidiri

15 April 2014              PSIS mengawali Divisi Utama dengan memetik kemenangan 3-1 atas Persipur Purwodadi

11 Agustus 2014         Memastikan lolos ke babak 16 besar setelah mengandaskan PPSM Sakti Magelang 4-0 di Jatidiri

20 September 2014     Lolos ke 8 besar berkat hasil imbang 1-1 di kandang Pro Duta

22 Oktober 2014         PSIS mengunci tiket semifinal setelah menang 5-0 atas Persiwa Wamena di Jatidiri

26 Oktober 2014         PSIS kalah 2-3 dari PSS yang menjadi awal petaka buat Mahesa Jenar. Lima gol bunuh diri terjadi di laga itu, dengan                                             tiga di antaranya dihasilkan pemain PSIS

28 Oktober 2014         Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan hukuman diskualifikasi terhadap PSS dan PSIS. Keduanya dipastikan tidak lolos ke                                         semifinal. Kedua tim juga terancam terdegradasi jika dalam penyelidikan lanjutan ditemukan bukti-bukti yang                                                       memberatkan