Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > Puluhan Pelajar SMA Uji Keakuratan Hasil Ukur dari Smartphone

Puluhan Pelajar SMA Uji Keakuratan Hasil Ukur dari Smartphone

METROSEMARANG.COM – Puluhan siswa dari lima SMA Se-Kabupaten/Kota Semarang saling adu keakuratan Android mereka di Pendopo Universitas Katolik (Unika) Seogijapranata, Kamis (15/12). Bukan adu merk atau harga Smartphone, tapi adu keakuratan dalam melakukan pengukuran besaran fisika nenggunakan smartphone berbasis Android.

Seorang peserta APHIC tengah mengukur kemiringan bidang menggunakan aplikasi di smartphone berbasis Android di pendopo Unila, Kamis (15/12). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Kompetisi bernama Android Physic Measurement Competition (APHIC) ini diinisiasi oleh mahasiswa jurusan Teknik Elektro Unika. Kompetisi yang diklaim sebagai ajang lomba pertama di Indonesia yang menjadikan Android sebagai alat ukur. “Iya ini even yang pertama kali dilaksakan, sebelumnya kami kroscek belum pernah ada yang bikin lomba semacam ini,” beber Dimas Arifian, ketua panitia.

Ia menuturkan ingin mengenalkan manfaat lain dari Android kepada para pelajar. Tidak hanya untuk digunakan sebagai perangkat komunikasi saja tetapi mengedukasi, jika Android bisa digunakan untuk kepentingan sehari-hari hingga pengukuran.

Meski demikian ternyata banyak peserta mengaku ragu dengan hasil pengukuran yang dilakukan. Lantaran Smartphone yang digunakan tiap peserta tidak ada standar atau batasannya. Seperti Yustinus Daru, peserta dari SMA Don Bosco Semarang ini mengakui ragu akan hasil pengukurannya.

Ia bahkan baru pertama kali mendengar dan mencoba mengukur besaran fisika dengan menggunakan Smartphone. “Nggak yakin sih sama hasil pengukurannya kaya nggak akurat gitu hasilnya,” ungkap Yustinus.

Pendapat Yustinus diamini Bernadita Anggun, rekan satu timnya. Anggun merasa pengukuran dengan Android kurang maksimal lantaran semua tipe Smartphone tidak terjamin kesamaan akurasinya. Terlebih lagi pengukuran besaran fisika dengan Android belum pernah mereka coba sebelumnya. “Kalau matematika sih tau ya ada kalkilatienya tapi fisika baru ini tahu dan nyoba” imbuhnya.

Masalah keakuratan masing masing Android peserta memang tidak ada aturan standar dari panitia. Hal ini diakui oleh Dimas, sehingga penilaian juga dilakukan dengan cara membandingkan hasil pengukuran  peserta dengan hasil pengukuran panitia dengan cara manual bukan dengan Android.

Selain Lomba pengukuran besaran fisika ada pula lomba pilihan ganda tentang fisika. Total ada 26 tim untuk dia cabang lomba tersebut dari lima sekolah yang menjadi peserta lomba. Kelima sekolah itu adalah SMA Sedes, SMA Masehi 2, SMA N 2 Ungaran, SMA Don Bosco, dan SMA Kebon Dalem. (vit)