Home > Berita Pilihan > Ranjangnya Los Pasar, Jemurannya Jembatan Penyeberangan

Ranjangnya Los Pasar, Jemurannya Jembatan Penyeberangan

Tak banyak yang bisa ia ceritakan. Tapi kisahnya adalah kisah orang yang tersingkir oleh arus pembangunan kota.

Suwarni Sutiyem menjemur pakaian setelah dicuci di kamar mandi umum Pasar Karangayu. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi
Suwarni Sutiyem menjemur pakaian setelah dicuci di kamar mandi umum Pasar Karangayu. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Ia kembali ke Semarang setelah dua tahun pergi ke Solo. Ia kembali lantaran sudah tak menemukan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang di sana. Tapi saat tiba di Semarang, ia tak lagi bisa menempati rumahnya.

“Wis digembok, kosong. Embuh sopo sing nggembok,” kisah Suwarni Sutiyem.

Rumah yang dimaksudnya bukan rumah dengan ruang tamu, kamar, pintu dan jendela yang layak. Melainkan bilik kecil yang menempel di tepi tembok pabrik di kawasan Genuk. Dulu Suwarni tinggal di sana bersama keluarga.

Kini ia enggan bercerita tentang mereka. “Aku lahir Semarang. Wong tuaku isih ana, anakku loro wis omah-omah kabeh,” hanya itu yang disebutkan Suwarni.

Sejak kembali ke Semarang sepuluh tahun lalu, Suwarni tinggal di Pasar Karangayu. Ia tidur di los pasar, mandi dan mencuci di kamar mandi umum dalam pasar. Ia juga bekerja di pasar sebagai kuli gendong.

Tiap pukul dua dini hari, ia sudah mulai meladeni pelanggan. Membawakan barang belanjaan pelanggan dengan punggungnya yang renta. “Aku wis tuwa ning ya isih kuwat,” katanya.

Suwarni tak tahu persis berapa usianya. “Jarene uwong-uwong ndisik, aku lahir tahun seket (limapuluh – red),” ujarnya yang tak bisa membaca.

Upah dua ribu sampai tiga ribu rupiah ia terima setiap melayani satu pelanggan. “Sak pawehe uwong,” Suwarni tak memasang tarif. Baginya, yang penting cukup untuk makan hari itu.

Pendapatannya tak tentu. Dalam sehari biasanya Suwarni bisa mengumpulkan Rp 10 ribu. Jika sedang beruntung sampai Rp 15 ribu, tapi katanya itu jarang.

Saat matahari sudah muncul, Suwarni menghentikan pekerjaannya. Sebab sudah ada angkutan umum yang bersiaga di depan pintu pasar. Saat itu pula waktu bagi Suwarni untuk mengurus dirinya. Membeli sarapan, mandi sekaligus mencuci baju-bajunya.
Tentu baju tak akan bisa dijemur di dalam pasar pada siang hari. Maka jembatan penyeberangan di dekat pasar menjadi jalan keluar untuk urusan jemuran. Ia akan menunggu di sana hingga tengah hari, sampai baju-bajunya kering.

Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi
Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Kamus pembangunan kota mencatat Suwarni dalam golongan yang hidup di bawah garis kemiskinan. Badan Pusat Statistik Kota Semarang mencatat garis kemiskinan di Kota Semarang pada pengeluaran rata-rata Rp 368.477 per kapita per bulan. Tahun 2015, jumlah penduduk miskin di Kota Semarang mencapai 84.270 jiwa.

Dalam statistik kependudukan kota, orang-orang seperti Suwarni digolongkan sebagai gelandangan dan pengemis. Meskipun ia tak pernah mengemis. Sistem Informasi Manajemen Warga Miskin Kota Semarang mencatat ada 790 gelandangan dan pengemis di Kota Semarang. Data terbaru dalam sistem tersebut menunjukkan angka tahun 2012.

Usia Suwarni telah lanjut, lebih dari 60 tahun. Ia tak tahu apakah di kota ini dirinya termasuk dalam hitungan kelompok rentan lanjut usia yang mendapat perlindungan, atau tidak. Ia hanya tahu cara hidup menggelandang di pasar.

Tidur di dalam pasar, Suwarni tak pernah diadang operasi penertiban. Berbeda dengan saat ia tidur di luar pasar. Beberapa kali ia diperingatkan petugas untuk tak menjemur pakaian di jembatan penyeberangan orang.
Peringatan yang sama juga diterima penjual makanan kecil dan perkakas di jembatan itu. Tapi bagaimana lagi. “Iki mung sediluk, mengko yen wis rada garing tak jupuki,” kata Suwarni. Saat mengucapkan itu, wajah Suwarni berpaling, matanya tak menatap lawan bicara. (han)

Yuk, Berbagi Informasi

Bagikan Artikel Ini. Klik ikon di bawah.
close-link