Home > METRO BERITA > Rayakan Hari Toleransi, Komunitas Lintas Iman Sambangi Makam Soegijapranata dan Kyai Sholeh Darat

Rayakan Hari Toleransi, Komunitas Lintas Iman Sambangi Makam Soegijapranata dan Kyai Sholeh Darat

METROSEMARANG.COM – Tepat 16 November, masyarakat Indonesia merayakan Hari Toleransi Internasional. Sehari setelahnya atau tepat Kamis (17/11) sore, sejumlah pria berpeci dan pastor gereja merayakannya dengan menabur bunga di makam tokoh Muslim dan Katolik terkemuka di Semarang.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (KAS), Aloys Budi Purnomo mula-mula datang ke tempat peristirahatan terakhir Mgr Soegijapranata di kompleks TMP Giri Tinggal Jalan Pahlawan.

Peringatan Hari Toleransi Internasional di Semarang, Kamis (17/11). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Peringatan Hari Toleransi Internasional di Semarang, Kamis (17/11). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Ia datang bersama komunitas lintas iman yang ada di Ibukota Jateng tersebut. Lalu, perjalanannya dilanjutkan ke makam KH Saleh Darat atau yang akrab dikenal Kyai Saleh atau Kyai Soleh Darat, ulama tersohor yang jadi maha guru KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari.

“Semoga benih-benih perdamaian dan kerukunan melalui perjumpaan seperti ini terus mewarnai dan menandai kesejukan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” ungkap Romo Budi yang jadi pastor di Paroki Kristus Raja Ungaran tersebut.

Romo Budi mengaku sebelumnya juga sempat menggelar dialog kebhinnekaan di Klaten dengan mengumpulkan para ulama, bante, pendeta dan pastor-pastor lainnya. Ia bangga dalam pertemuan tersebut, sebab peserta lintas agama itu datang dari berbagai kota/kabupaten serta provinsi, dengan penuh semangat.

“Beberapa orang muda Katolik dan Kristen, Hindu, Budha, Konghucu hingga penganut Kepercayaan ikut hadir dalam acara itu,” ujarnya.

Subhan, seorang Gusdurian di Semarang mengaku merindukan dengan nuansa keberagaman sebagai perilaku hal yang tidak terelakkan dalam kehidupan berdemokasi. Karena keberagaman rakyat Indonesia kini tak lagi membumi, sehingga kelompok masyarakat tertentu justru bertindak mengangkangi keberagaman.

Banyaknya ekses negatif yang menyerang keberagaman, katanya mulai pelemparan bom ke gereja dan vihara di Samarinda dan Singkawang. Hal itu diperparah dengan intimidasi kelompok ekstrem terhadap peringatan Asyura Syiah di Jalan Layur Semarang.

Untuk itu, Hari Toleransi Internasional yang telah tetapkan PBB sejak 16 November 1995 hendaknya jadi titik balik merefleksikan warga Indonesia terhadap keberagaman. “Pemerintah harus melindungi, menghormati, memenuhi hak asasi manusia sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya.

“Kami dari Jaringan Masyarakat Semarang untuk Keberagaman menolak tindakan intoleransi dan diskriminasi atas nama agama, suku, ras, warna kulit, jenis kelamin, pandangan politik, orientasi seksual. Negara harus mampu berperan aktif dalam menjaga keberagaman. Lalu bubarkan ormas intoleran dan tutup website dan akun media sosial intoleran agar bisa melindungi kelompok minoritas,” tutupnya. (far)