Rayakan Imlek, Putra Mendiang Thio Tiong Gie Mainkan Potehi di Semawis

Pertunjukan wayang Potehi oleh Thio Haouw Lie. Foto: metrosemarang.com/fariz fardinto
Pertunjukan wayang Potehi oleh Thio Haouw Lie. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

METROSEMARANG.COM – Sepeninggal dalang legendaris, Thio Tiong Gie, rupa-rupanya seni wayang golek Cina (Potehi) di Semarang tetap eksis. Buktinya, Thio Haouw Lie, putra kelima Thio Tiong Gie mengikuti jejak ayahnya dengan mementaskan Potehi dalam acara pembuka Semawis 2016, Kamis (4/2) sore.

Berbeda dengan panggung wayang golek yang memakai geber, Lie, panggilannya, memainkan tokoh pendekar Cina, Fu Xin Hiok di dalam panggung berbentuk dadu yang tertutup rapat. Dengan diiringi empat pemusik, ia tak canggung saat mendalang di hadapan pengunjung Semawis.

Beberapa pengunjung Semawis pun terlihat mampir untuk menonton Potehi yang dimainkan Lie. Jemari tangannya tampak luwes saat memainkan Potehi selama tiga jam.

Lelaki yang punya nama lain Herdian Chandra Irawan ini mengaku, tak mudah memainkan Potehi warisan ayahnya. Saat manggung di Semawis 2016, Lie harus ekstra keras menghafal jalan cerita dari tokoh Fu Xin Hiok. “Saya main tiga hari. Dan setiap hari harus latihan dua jam,” akuinya usai pentas di Semawis.

Lie rela meneruskan jejak ayahnya karena menganggap wayang Potehi nyaris punah. “Sayang kalau hilang (dari peredaran). Apalagi di Semarang pementasan Potehi sudah sangat minim,” sahutnya.

Baginya, wayang Potehi yang masuk Semarang sejak 33 tahun lalu itu sudah jadi warisan budaya dunia yang patut dilestarikan. Ia sendiri saat ini sedang belajar menghafal satu persatu jalan cerita tokoh-tokoh Potehi yang diwariskan ayahnya.

“Cengkok-cengkok Potehi sangat susah karena memakai logat Cina Hokian. Jadi belum semuanya saya pelajari. Ternyata sangat sulit menghafal cerita tokoh Xi Gui Zhi yang jadi favorit ayah saat masih hidup,” jelas Lie.

Potehi baru diwariskan kepadanya saat sang ayah sakit keras di penghujung tahun 2014 silam. Sebelumnya, Lie hanya curi-curi ilmu tatala menemani sang ayah pentas di berbagai daerah Indonesia.

“Ini pentas saya yang kelima. Jauh sebelum ini, saya cuma membantu memasang panggung sambil menonton ayah mendalang,” ungkap Lie.

Ia berharap di masa mendatang, Potehi kembali membumi agar digandrungi masyarakat luas. Untuk itu, ia ingin ada regenerasi di bidang dalang Potehi maupun pemusik. “Sejauh ini, saya sedang berusaha membawakan cerita yang mudah diingat supaya bisa berinteraksi langsung dengan penonton,” terang Lie. (far)