Home > METRO BERITA > Romo Budi Sesalkan Ulah Oknum yang Mencabik-cabik Nuansa Toleransi

Romo Budi Sesalkan Ulah Oknum yang Mencabik-cabik Nuansa Toleransi

METROSEMARANG.COM – Sejumlah aktivis berbagai organisasi masyarakat merayakan Hari Toleransi Internasional dengan khidmat di Videotron Jalan Pahlawan, Semarang, Jumat (18/11).

Mereka menggelar teatrikal dengan menampilkan sosok Aloys Budi Purnomo, seorang pastor gereja Katolik kharismatik yang memainkan saksofonnya dengan diiringi narasi-narasi kebudayaan dari komunitas lintas agama lainnya.

Komunitas lintas iman memeringati Hari Toleransi di Bundaran Jalan Pahlawan Semarang, Jumat (18/11). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Komunitas lintas iman memeringati Hari Toleransi di Bundaran Jalan Pahlawan Semarang, Jumat (18/11). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Beberapa spanduk dibentangkan lebar-lebar untuk mengutuk keras perilaku intoleran dan diskriminasi yang saat ini kian marak terjadi di beberapa daerah Indonesia. Mereka bertekad menjunjung tinggi sikap-sikap toleransi meski diwarnai tekanan dari kelompok tertentu yang mengedepankan tindak kekerasan.

“Perilaku yang berkembang saat ini dimana toleransi makin hari bukannya makin baik, tapi justru dicabik-cabik dengan ulah kelompok tertentu yang kerap memicu aksi kekerasan,” cetus pastor yang akrab disapa Romo Budi ini.

Ia menganggap perilaku tersebut harus segera diubah karena bisa mencederai makna toleransi yang telah diajarkan para leluhur bangsa terdahulu. Padahal, katanya, dengan mengedepankan semangat persatuan antar warga, sikap toleransi jadi sikap yang begitu dirindukan oleh generasi muda.

“Karenanya toleransi tak pernah bisa dihancurkan oleh oknum tertentu. Toleransi jadi sesuatu yang dirindukan dan dijunjung tinggi oleh masyarakat indonesia,” jelasnya.

Ia pun mendesak kepada pemerintah Indonesia, agar menindak tegas segala bentuk perilaku intoleransi, dan berhenti mencurigai orang-orang yang ingin membangun perdamaian di negeri ini.

“Bukannya yang mengusung perdamaian yang ditindak tapi harusnya mereka yang kerap sentralistis yang mesti ditindak,” terangnya.

Rangkaian perayaan Hari Toleransi di Semarang juga digelar dengan memutar film-film indie yang menceritakan semangat berkawan, tanpa melihat unsur ras maupun agama.

Pemutaran film digelar di beberapa tempat dan puncaknya dilakukan Sabtu besok di Gedung Serikat Islam Semarang. Sebelumnya pastor-pastor gereja bersama pria berpeci juga menyambangi makam Mgr Soegijapranata dan Kyai Soleh Darat. (far)