Home > METRO BERITA > RS Telogorejo Menolak Bongkar Semua Penutup Saluran

RS Telogorejo Menolak Bongkar Semua Penutup Saluran

METROSEMARANG.COM – Rumah Sakit Telogorejo Kota Semarang menolak untuk membongkar penutup saluran dari beton dan besi di bagian depan rumah sakit secara menyeluruh, meskipun diakui memang melanggar peraturan. Mereka hanya bersedia untuk membongkar separuhnya saja.

Sidak Komisi C DPRD Kota Semarang di RS Telogorejo, Selasa (1/11). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh
Sidak Komisi C DPRD Kota Semarang di RS Telogorejo, Selasa (1/11). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Hal itu disampaikan Pembina Yayasan RS Telogorejo Semarang, Andi Sulistio usai beraudiensi dengan Komisi C DPRD Kota Semaang, menindaklanjuti sidak yang dilakukan Komisi C pada Selasa (1/11) lalu. Pertemuan itu juga dihadiri dinas terkait seperti  Dishubkominfo, DTKP, PSDA-ESDM dan DKP serta Manajemen RS Telogorejo.

Menurut Andi Sulistio, pihaknya hanya menginginkan pembongkaran separuhnya karena bekas tempat parkir itu akan dibangun taman. Konsep pembangunan taman akan dimodifikasi supaya selain sebagai taman untuk ruang publik saluran juga tetap bisa dibersihkan dengan mudah.

”Kalau soal melanggar perda saya yakin bisa ada titik temu, karena saluran nantinya hanya ditutup separuhnya. Selain itu kami sudah tidak memiliki lokasi untuk membangun ruang publik,” katanya.

Taman akan dibangun menjadi ruang publik yang berprinsip pada taman sehat dan nyaman untuk duduk-duduk dan istirahat warga Semarang. Bahkan nantinya, diharapkan taman sehat ini menjadi contoh bagi gedung atau perkantoran lain di Semarang dalam penyediaan ruang publik.

”Kami menjamin pembangunan taman ini tidak akan membuat lokasi menjadi lebih jelek dari kondisi yang ada sekarang,” katanya.

Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang Kadarlusman menegaskan, pihaknya tetap meminta rumah sakit harus membongkar penutup saluran dan mengembalikan fungsinya. Diakui sebelumnya RS Telogorejo mendapat izin dari Dishub untuk menutup saluran sebagai tempat parkir. Tapi kini rumah sakit telah membangun gedung parkir sendiri yang representatif.

”Dari PSDA yang mengurusi saluran sudah menegaskan penutupan saluran air melanggar Perda Nomer 7 Tahun 2014 tentang Rencana Induk Sistem Drainase Kota Semarang, karena menyebabkan tidak berfungsinya sistem drainase secara baik,” katanya.

Pihaknya meminta agar rumah sakit memaparkan konsep rencana pembangunan tamannya jika diklaim tidak akan mengganggu fungsi saluran. Sebab bagaimana pun pembangunan taman di atas saluran drainase meski hanya sebagian itu tetap kurang tepat. (duh)