Secuil Kisah Pembuat Rebung Lunpia yang Legendaris di Semarang

BAU rebung langsung menusuk hidung tatkala metrosemarang.com memasuki salah satu rumah di RT 08/RW III, Kampung Brondongan, Kelurahan Kebonagung, Semarang, pada Selasa (31/1).

Salah seorang pekerja sedang merajang rebung sebagai bahan isian lunpia. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Di dalam rumah tampak dua buruh tengah sibuk merajang tumpukan rebung. Sembari menyeka peluhnya, Zainal Abidin, seorang pembuat rebung mengatakan hari ini sedang mengerjakan pesanan rebung sebanyak lebih dari dua kuintal.

Pesanan yang ia dapatkan berasal dari pemilik toko lunpia di Gang Lombok, kawasan Pecinan Semarang. “Sehari dapat pesanan dua kuintal lebih,” katanya.

Ia mendapat bahan baku rebung dari Mranggen, Magelang maupun Wonosobo. Pembuatan rebung mula-mula dimasukan sebuah wadah untuk difermentasi selama sebulan penuh.

Kemudian, rendaman rebung dibilas kembali dan diperas untuk mengeluarkan kandungan getah di dalamnya. “Baru setelah itu dirajang-rajang tipis-tipis sebagai isian lumpia,” cetusnya.

Ia mengaku pembuatan rebung lebih maksimal menggunakan tenaga manual ketimbang mesin modern. “Kalau pakai mesin hasilnya kurang bagus,”.

Zainal sudah 15 tahun membuat rebung di Kampung Brondongan. Ia mematok harga untuk tiap kilogram rebung senilai Rp 10.500.

Selain dirinya, masih terdapat 15 warga setempat yang membuat bahan makanan tersebut. Warga juga menjual rebung dengan harga variatif mulai Rp 5.000 sampai Rp 15.000 per kilogram.

“Tergantung permintaan tiap pedagang lunpia,” tuturnya.

Rebung racikan warga setempat laris manis dipesan para pedagang lunpia di seantero Semarang. Untuk hari Sabtu atau Minggu misalnya, pesanan melonjak tajam seiring meningkatnya penjualan lunpia dibanding kondisi hari biasa hanya mentok 2.000 lunpia.

Geliat pembuatan rebung di Brondongan tak lepas dari bisnis lunpia yang diawali dari daerah tersebut. Adalah Mbok Warsi yang mengawali usaha lunpia di Brondongan.

Subiyanto, Lurah Kebonagung mengatakan keahlian Mbok Warsi membuat lunpia didapat dari suaminya yang masih keturunan Tionghoa.

“Lalu muncullah generasi pertama yang mempelopori penjualan lunpia di Ssmarang. Kami tentu senang Brondongan dikenal sebagai cikal bakal Lunpia sampai akhirnya didapuk sebagai Kampung Edukasi Lumpia sejak Desember tahun kemarin,” katanya.

Subiyanto menjelaskan ada 15 warga yang tersebar di tiga RT yang rutin membuat rebung. “Pembuat rebung skala besar ada tiga, yang lainnya kecil-kecil untuk pedagang kaki lima,” ungkapnya.

Kampung Edukasi Lumpia diharapkan mampu mengubah kawasan kumuh sekaligus mendongkrak kesejahteraan warga setempat. Ia ingin Brondongan nantinya bisa menarik minat wisatawan untuk mengenal mendalam pembuatan lunpia.

“Kami sudah membentuk pengurus untuk mempromosikan sentra pembuatan lunpia. Wisatawan bisa melihat pembuatan rebung sampai menggulung kulit lumpia,” bebernya. (far)