Home > METRO BERITA > Segera Bebas, 18 Napi Teroris bakal Diawasi Ketat

Segera Bebas, 18 Napi Teroris bakal Diawasi Ketat

METROSEMARANG.COM – Belasan narapidana terorisme terendus akan dibebaskan bersyarat oleh salah satu pengelola lembaga pemasyarakatan (lapas) di Jawa Tengah. Meski begitu, Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) setempat enggan membeberkan lebih jauh dari lapas manakah mereka akan dibebaskan.

Ilustrasi
Ilustrasi

“Ada 18 narapidana (terorisme) yang akan keluar lapas. Itu potensi radikalisme yang patut diwaspadai oleh semua pihak. Sebab, sarana untuk menyebarkan paham tersebut kini semakin masif dan sistematis,” ungkap Ketua FKPT Jateng, Najahan Musyafak di sela dialog terbuka bertajuk Peran Masjid dalam Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme, di Hall MAJT, Rabu (23/11).

Musyafak mengatakan, dengan pembebasan ke-18 narapidana terorisme itu, potensi untuk kembali melancarkan aksi teror justru kian terbuka lebar. Ditambahkan, banyaknya sekolah sekolah, ponpes dan masjid yang berafiliasi dengan gerakan radikal kini mudah ditemukan ditengah masyarakat.

Di eks-Karesidenan Surakarta misalnya, ia menengarai masih bermunculan sel baru teroris. “Karena terdapat tokohnya ditambah pula ada mantan napi teroris yang bermukim di salah satu kampung,” urainya.

Tak hanya itu saja, katanya, situasi masyatakat setempat juga memicu timbulnya bibit teroris baru lantaran beberapa masjid di Serangan, Penumping dan Pasar Kliwon bahkan kerap dijadikan basis dakwah bagi gerakan tertentu.

“Makanya, sembari kita awasi gerak-gerik 18 napi yang akan bebas itu, kita juga akan memantau masjid di sana apakah menggerakan ajaran yang baik atau malah memunculkan paham radikalisme,” terang Musyafak.

“Kita juga terus berupaya menggencarkan tiga program penanggulangan terorisme mulai deradikalisasi lalu resosiliasi serta melakukan redukasi di tiap daerah. Proses pemantauan itu kita lakukan bersama pihak Bapas,” sambungnya.

Di luar itu, kata Musyafak, ancaman gerakan radikalisme kini semakin besar mengingat data dari Setara Institue menyebutkan sekitar 18 persen gerakan radikalisme telah muncul di Indonesia sementara sisanya 81 persen publik menyatakan tetap setia pada konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (far)