Jejak Heroik Pemuda di Pertempuran Lima Hari di Semarang

Sketsa Gogelein A J F tentang arak-arakan truk berisi para Pemuda yang mendukung kemerdekaan Republik Indonesia di Bangkong pada 3 Oktober 1945. (sumber: geheugenvannederland.nl)
Sketsa Gogelein A J F tentang arak-arakan truk berisi para Pemuda yang mendukung kemerdekaan Republik Indonesia di Bangkong pada 3 Oktober 1945. (sumber: geheugenvannederland.nl)

Pertengahan Agustus 1945, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, diproklamirkanlah Republik Indonesia. Kabar ini lalu mendapatkan dukungan luas dari masyarakat di Indonesia yang telah lama menderita di bawah pendudukan bangsa asing.

Di Kota Semarang, semangat untuk mendukung Republik Indonesia juga menggelora. Para anggota milisi pemuda pendukung kemerdekaan segera menuntut kepada tentara Jepang yang masih berjaga menunggu kedatangan pasukan Sekutu untuk tunduk kepada Republik Indonesia dan menyerahkan senjatanya kepada para pemuda. Ketegangan pun terjadi disela-sela kekacauan yang terjadi akibat masa vacuum of power. Beberapa kekacauan terjadi antara milisi pemuda dengan tentara Jepang.

Pelucutan senjata tentara Jepang berlanjut, ratusan tentara Jepang ditawan oleh para milisi pemuda di Penjara Bulu, Semarang. Kekacauan terus terjadi dan menimbulkan kesalahpahaman, puncaknya tawanan-tawanan tentara Jepang di Penjara Bulu dihabisi oleh para milisi Pemuda. Tercatat 200 Tentara Dai Nippon tewas. Peristiwa ini menimbulkan amarah Tentara Jepang yang bermarkas di Kesatrian Jatingaleh. Mayor Kido, komandan Tentara Jepang di Semarang, mengerahkan pasukannya untuk melakukan tindakan balas dendam. Kekacauan terjadi lebih parah dengan dibakarnya beberapa kampong seperti kampung Batik, Pandean Lamper, dsb.

Pada 14 Oktober 1945 merebak kabar diracunnya sumber air warga Kota Semarang melalui Reservoir Siranda. Dr. Kariadi, kepala Purusara (Pusat Urusan Kesehatan Rakyat), kini dikenal sebagai RS. Dr. Kariadi, tergerak untuk mengecek kebenaran kabar tersebut. Malang bagi Dr. Kariadi, saat melintas di Jalan Pandanaran, ia bersama dua ajudannya diberondong tembakan Tentara Jepang dan tewas.

Pertempuran pun terjadi selama lima hari di Kota Semarang dari tanggal 15 Oktober hingga 20 Oktober 1945. Kontak senjata antara Tentara Jepang dan para milisi Pemuda terjadi sporadis di beberapa lokasi di Kota Semarang. Diperkirakan sekitar 2000 lebih masyarakat Semarang baik sipil maupun anggota milisi Republieken tewas selama perang berlangsung. Sedangkan di pihak Jepang, diperkirakan korban tewas sekitar 500 orang. Perang baru berakhir saat tentara Sekutu tiba di Semarang . Untuk mengenang peristiwa ini dibangunlah Tugu Muda di pusat Kota Semarang. (Komunitas Lopen Semarang)

 

“Kunjungi juga laman Facebook Komunitas Lopen Semarang, salah satu komunitas pecinta sejarah di kota Semarang. Sapa juga mereka lewat akun Twitter @lopenSMG.”

 

 

 

Post Author: Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang dan Rembang. Web developer MetroSemarang.com