Home > METRO BERITA > METRO BISNIS > Sektor Jasa Keuangan Stabil, OJK Optimistis Kesejahteraan Masyarakat Jateng akan Meningkat

Sektor Jasa Keuangan Stabil, OJK Optimistis Kesejahteraan Masyarakat Jateng akan Meningkat

METROSEMARANG.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) KR 3 Jateng dan DIY menyelenggarakan pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2017 yang dihadiri seluruh pimpinan Industri Jasa Keuangan di wilayah Jawa Tengah, baik sektor Perbankan, Pasar Modal, dan Industri Keuangan non Bank.

Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi dan Gubernur Ganjar Pranowo hadir dalam peresmian gedung kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3 Jawa Tengah DIY di Jalan Kyai Saleh No 12-14 Semarang, Jumat (17/2). Foto: metrosemarang.com/agil wibowo

Di Jawa Tengah, tercatat pertumbuhan ekonomi tahun 2016 sebesar 5,28 persen, atau lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi secara nasional yang tercatat sebesar 5,02 persen. Inflasi terjaga di angka 2,36 persen dan tingkat kemiskinan sebesar 13,19 persen.

Menurut Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan DIY, Moch Ihsanuddin, pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah tidak lepas dari andil perkembangan di sektor jasa keuangan di Jawa Tengah, yang selalu mengalami peningkatan. Di 2016, sektor jasa keuangan meningkat sebesar 9,67 persen.

“Capaian tersebut merupakan modal yang baik untuk melangkah di tahun 2017. Ada optimisme, apalagi jika kita menyadari bahwa proyek-proyek infrastruktur yang terus berjalan akan memberikan pondasi yang lebih kuat bagi bangunan ekonomi nasional jangka panjang,” katanya, Jumat (17/2).

Dia menambahkan, berdasarkan statistik pengawasan OJK, perkembangan industri perbankan di Jawa Tengah cukup menggembirakan dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit di tahun 2016 yang tercatat sebesar 9,41 persen, dana pihak ketiga 11,38 persen dengan NPL 3,08 persen.

Di bidang pasar modal, pertumbuhan investor meningkat sebesar 28,25 persen dan nilai transaksi pada posisi Desember 2016 sebesar Rp 4,127 miliar. Industri Keuangan Non Bank di Jawa Tengah menunjukkan pertumbuhan 12,60 persen pada aset dana pensiun, sementara itu piutang pembiayaan justru mengalami menurun sebesar 6,81%, Non Performing Financing 1,18 persen dan aset LKM sebesar Rp 114,08 miliar dari 91 LKM.

“Jumlah LKM yang diberi izin di Jawa Tengah sampai dengan Desember 2016 sebanyak 91 yang merupakan 70,05 persen dari jumlah total LKM di Indonesia sebanyak 129 LKM, merupakan jumlah yang terbanyak se-Indonesia,” tambahnya.

Sejalan dengan peningkatan-peningkatan tersebut, indeks literasi keuangan dan indeks inklusi keuangan di Jawa Tengah, meningkat lebih tinggi dibanding nasional. Indeks literasi keuangan meningkat dari 19,25 persen di 2013 menjadi 33,51 persen pada 2016 sedangkan nasional dari 21,8 persen di 2013 menjadi 29,7 persen pada 2016.

Adapun indeks inklusi keuangan mengalami peningkatan dari 41,03 persen menjadi 66,23 persen sedangkan nasional dari 59,7 persen menjadi 67,8 persen. “Hal tersebut didukung dengan 5.360 jaringan kantor LJK dan 49.783 agen laku pandai yang tersebar di seluruh Jawa Tengah,” pungkasnya. (ade/MG02)

Tinggalkan Balasan