Home > METRO BERITA > Fokus Metro Semarang > Semarang Penyumbang Angka HIV/AIDS Terbesar se-Jawa Tengah

Semarang Penyumbang Angka HIV/AIDS Terbesar se-Jawa Tengah

Ilustrasi
Ilustrasi

SEMARANG – Menurut pemaparan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jawa Tengah, Suwandi Sawadi, Semarang adalah penyumbang angka HIV/AIDS terbesar di Jawa Tengah mulai 1993 sampai September 2014. Data Orang dengan HIV/AIDS (Odha) yang sudah terdaftar sampai 1409 orang.

“Pengidap terbanyak adalah dari kalangan wiraswasta sebanyak 22,5% dan ibu rumah tangga yang berjumlah 18,4%,” paparnya.

Berdasarkan data di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa umur yang menjalani profesi di atas rata-rata adalah umur produktif, yakni mulai 25 tahun sampai 34 tahun.

Dia menjelaskan, masa dimana seseorang terjangkit virus sampai terkena AIDS adalah sekitar lima sampai sepuluh tahun. Jika ada usia 25 sampai 34 ditarik 10 tahun, maka dapat disimpulkan bahwa orang-orang tersebut pertama terjangkit virus ketika masih usia remaja, yakni sekitar 15 sampai 24 tahun.

“Jika sudah terjangkit virus, penderita tidak akan sembuh. Tapi pperkembangan virus bisa ditekan dengan mengkonsumsi obat ARV seumur hidup,” kata dia. Selain itu, penerapan hidup sehat juga penting agar tubuh tidak mudah sakit.

Tindakan pencegahan sangat disarankan agar seminim mungkin menghindari virus HIV. “Tidak berhubungan sex dengan pengidap virus, menggunakan jarum suntik yang steril serta meningkatkan merupakan pencegahan yang bisa kita lakukan,” terang dia.

Pengidap HIV tidak mempunyai ciri fisik khusus yang membuatnya terlihat sakit. “Mereka bisa beraktivitas seperti orang sehat sampai masanya AIDS mulai menggerogoti sistem kekebalannya,” kata Sawadi.

Oleh karena itu, dibentuk wadah untuk Odha agar mereka tetap memiliki semangat untuk hidup dan tetap produktif. “Di Jawa Tengah ada LSM Peka (Peduli Kasih) yang bersedia menamung teman-teman. Di sini mereka juga akan saling berkomunikasi dengan konsultan yang paham betul masalah mereka, karena konsultan tersebut juga Odha,” ungkapnya.

Para personel konsultan tersebut disebut disebut Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). KDS di sebar di berbagai kota/kabupaten serta rumah sakit yang nantinya bertujuan untuk mengawal pengidap HIV lainnya. (ade)