Home > Berita Pilihan > Sembilan Ekor Sapi Bawa Kakek Mutaji ke Tanah Suci

Sembilan Ekor Sapi Bawa Kakek Mutaji ke Tanah Suci

METROSEMARANG.COM – Jerih payah bergelut dengan sapi selama hampir 10 tahun akhirnya berbuah manis bagi Mutaji. Pria berusia 58 tahun warga RT 03/RW 07 Kampung Kliwonan, Kecamatan Ngaliyan, Semarang itu sukses mewujudkan mimpinya untuk pergi ke tanah suci.

Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

Bahkan, sang istri Munawarah (57) juga ikut diboyong. Keduanya sudah tercatat sebagai jemaah haji kloter 68 yang dijadwalkan berangkat ke Mekah melalui embarkasi Donohudan, Boyolali pada 2 September 2016 mendatang.

Kegigihan kakek Mutaji untuk mewujudkan mimpinya tidaklah mudah. Selama 10 tahun terakhir ia rela merawat dan menjaga sapi milik tetangga untuk memperoleh untung yang tak seberapa. Namun, justru keuntungan tersebutlah yang membuatnya memiliki sembilan ekor sapi untuk mewujudkan mimpinya.

“Keuntungannya juga saya belikan sapi. Terakhir ada sembilan ekor sapi milik saya sendiri. Saya dan istri tak pernah berpikir bisa berangkat haji,” kata Mutaji ditemui di rumahnya, Selasa (16/8)

Diceritakan Mutaji, awalnya ia diberikan modal tetangganya memelihara delapan ekor sapi jantan untuk digemukkan di tahun 2005. Usaha mencari rumput untuk makan sejumlah sapi itu dilakukan dengan susah payah. Mutaji bahkan rela mendorong gerobak sejauh 4 kilometer untuk mencari rumput.

“Dulu pakainya gerobak. Tapi karena tenaga saya semakin tua dan lemah akhirnya pakai motor. Kebetulan ada motor bekas milik tetangga yang saya beli Rp 1 juta,” imbuh Mutaji.

Sapi milik Mutaji ia jual seharga Rp 105 juta. Jumlah tersebut digunakan untuk total biaya haji Rp70 juta serta keperluan saat akan berangkat. “Jadi untuk biaya haji ini memang murni dari saya menggemukkan sapi,” ujarnya.

Sementara, istri Mutaji, Munawarah juga mengaku belum bisa percaya ia akan menginjak tanah suci bersama sang suami. Ia tak menyangka usaha sang suami merawat sapi justru mewujudkan mimpi keduanya.

“Sempat nggak yakin. Memang bapak cuma nyari sangu (bekal) untuk bisa haji. Sementara untuk makan sehari-hari dan merawat anak-anak dari hasil saya menjahit, sekarang juga sudah mapan,” kata Munawarah. (yas)