Home > Berita Pilihan > Senandung Pilu Thio Haouw Lie Lestarikan Wayang Potehi Asli Tiongkok

Senandung Pilu Thio Haouw Lie Lestarikan Wayang Potehi Asli Tiongkok

METROSEMARANG.COM – Acara tahunan merayakan Imlek baru saja selesai digelar di Kampung Pecinan, Semarang. Ratusan, bahkan ribuan pasang mata tumplek-blek untuk turut merayakan datangnya Tahun Baru Ayam Api tersebut.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Namun, jauh dari hingar bingar tersebut, ada sekelumit kisah pilu dari seorang pria yang tertatih-tatih meneruskan seni pertunjukan khas Tionghoa. Thio Haouw Lie, nama pria tersebut tampak menyeka peluhnya usai tampil mendalang di Pecinan.

Lie, panggilannya yang punya nama lain Herdian Candra Irawan itu mengaku orderan menanggap wayang potehi semakin berangsur surut. Para penontonnya tak sebanyak zaman dahulu.

Lie pun akhirnya harus bersusah payah menghidupi anak buahnya yang membantu pementasan wayang potehi.

“Eksistensi potehi sekarang semakin kritis, Mas. Walaupun beberapa dalang senior belum ada yang membantu, tapi saya harus meneruskan potehi peninggalan ayah saya yang meninggal dua tahun lalu,” kata Lie saat ditemui metrosemarang.com di rumahnya, yang tak jauh dari Jalan Gang Pinggir, Semarang Tengah, Selasa (31/1).

Orderan wayang potehi paling banyak ia dapatkan saat Imlek tiba. Di luar itu, kata Lie, hanya ada satu dua orang saja yang mengundangnya pentas pada hajatan tertentu.

“Setiap kali pentas selama satu sampai lima hari, saya dapat Rp 9 juta. Tentunya itu lebih murah ketimbang pentas wayang kulit yang bisa mencapai puluhan juta rupiah,” katanya.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Namun, ia berpendapat tiap kesenian punya keunikan tersendiri. Wayang potehi atau wayang golek khas Tiongkok juga mengandung ragam filosofi yang mendalam.

Ada sedikitnya 100 wayang potehi asli Tiongkok yang masih ia mainkan tiap kali pentas. Dan lakon Jenderal Yang adalah favoritnya.

“Ceritanya penuh filosofi. Lakon Jenderal Yang merupakan warisan ayah yang dibuat langsung dari dataran Cina,” kata Lie, anak kedua dari mendiang maestro dalang potehi, Thio Tiong Gie alias Teguh Chandra itu.

Jenderal Yang mengajarkan bagaimana pertahanan militer yang kuat harus dibangun di sebuah negara kepulauan. Dalam setiap pementasannya, Jenderal Yang jadi primadona para penonton. Lie mengaku bangga tiap kali mementaskan lakon tersebut.

“Sangat lega rasanya bila penonton memberi tepukan tangan riuh kepada lakon yang kita tampilkan,” ujarnya seraya merapihkan boneka-boneka potehi dalam sebuah kotak kayu.

Selain Jenderal Yang, satu lagi lakon yang kerap ia pentaskan ialah Fu Xin Hiok, seorang tokoh bocah shaolin yang diceritakan begitu gigih mempertahankan martabat negaranya.

“Fu Xin Hiok berasal dari Mancuria dan anak-anak kecil selalu suka dengan lakon yang satu ini,” terangnya.

Tiap mementaskan potehi, Lie selalu punya jeda istirahat sejam sekali. Ini dilakukan agar para penonton tak bosan dengan alur ceritanya.

Lie berkata tak mudah bertahan hidup hanya dengan mengandalkan pementasan potehi. Ia pun saban hari juga bergulat dengan membuat kerajinan barongsai untuk dijual ke komunitas-komunitas Tionghoa.

“Ya saya memang punya home industri khusus menjual barongsai. Yah itung-itung buat menyambung hidup keluarga,” akunya.

Ke depan, ia berharap bisa terus mengolah bakatnya mendalang potehi. Tak hanya keluwesan tangannya saja. Ia juga ingin meningkatkan gairah seni pertunjukan potehi sehingga kesenian Tionghoa ini kembali moncer di seluruh penjuru Tanah Air. (far)