Home > EXPLORE SEMARANG > Sepenggal Kisah Monumen Ketenangan Jiwa dan Tentara Jepang yang Terbunuh di Semarang

Sepenggal Kisah Monumen Ketenangan Jiwa dan Tentara Jepang yang Terbunuh di Semarang

METROSEMARANG.COM – Gelombang laut Pantai Baruna, Semarang tampak landai, pada Minggu (20/8) siang. Udara yang menghangat membuat sejumlah muda-mudi tak mau melewatkan waktunya untuk berlibur di lokasi tersebut.

Monumen Ketenangan Jiwa salah satu tetenger peristiwa bersejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Jalan setapak yang bergelombang cukup menyulitkan pengunjung untuk masuk ke bibir Pantai Baruna.

Pada gerbang Pantai Baruna, tiap pengunjung dikenai tarif Rp 3.500. Saelani, seorang penjaga Pantai Baruna sudah meminta kepada pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang untuk memperbaiki akses masuk pantai.

Namun sayangnya, janji tinggal janji. Pihak Disbudpar tak kunjung memberi kabar hingga kini.

“Pak Sapto (Kepala Disbudpar) pernah kemari. Dia survei kerusakan jalan di sekitar pantai. Maka saya usulkan agar diperbaiki secepatnya. Tetapi entah mengapa sampai saat ini belum ada respon balik, katanya akan dilaporkan ke Walikota dulu,” kata Saelani kepada metrosemarang.com, Minggu (20/8).

Ia mengatakan terdapat sebuah titik menarik yang dapat dikunjungi saat berada di Baruna. Monumen Ketenangan Jiwa, kata Saelani merupakan bangunan bersejarah yang dapat ditemui dengan mudah di sana. “Saya diminta dinas untuk membersihkan monumennya,” akunya.

Saat metrosemarang.com menyambangi Monumen Ketenangan Jiwa, terdapat ukiran huruf kanji yang melekat pada dinding monumennya. Guratan kanji tersebut sangat jelas dan menyiratkan identitas nama-nama korban yang tewas pada masa lampau.

Letaknya di bibir pantai ditambah bentuknya yang berupa bongkahan batu besar cukup menarik perhatian pengunjung.

“Rombongan dari Jepang sering kemari, mereka rata-rata sembahyang di Monumen Ketenangan Jiwa. Jumlahnya ya rata-rata tiga sampai lima orang. Sebab di sanalah terdapat nama-nama tentara Jepang yang gugur saat pertempuran lima hari Semarang,” tuturnya.

Bila dicermati, Monumen Ketenangan Jiwa memang sarat sejarah. Bahkan, Wali Kota Semarang kala itu Sutrisno Suharto sempat membubuhkan tandatangannya di sana pada 14 Oktober 1998 silam untuk menandai peresmian monumen tersebut.

Sejarawan Semarang, Yongky Tio, menyebut Monumen Ketenangan Jiwa kerap ditengok oleh keluarga tentara Jepang yang tewas pada era pergolakan kemerdekaan Indonesia di Semarang.

Ia memperkirakan ada warga sipil dari Negeri Sakura yang turut diabadikan dalam tulisan kanji di monumen tersebut. Pasalnya, menurut kajian sejarahnya, ada beberapa pegawai pabrik milik Jepang yang terbunuh saat bertemu dengan pejuang Indonesia.

“Maka dari itu di Monumen Ketenangan Jiwa juga ditulis tentara dan warga Jepang yang tewas,” paparnya.

Tak ayal, setiap 10 Oktober banyak warga Jepang datang ke Monumen Ketenangan Jiwa. Mereka juga ikut upacara peringatan pertempuran Lima Hari di Tugu Muda pada 14-15 Oktober. (far)