Home > METRO BERITA > Shelter BRT Trans Semarang Memprihatinkan

Shelter BRT Trans Semarang Memprihatinkan

Shelter BRT harus steril dari kendaraan lain, sehingga tidak mengganggu penumpang maupun bus yang ingin berhenti. Foto Metrosemarang
Shelter BRT harus steril dari kendaraan lain, sehingga tidak mengganggu penumpang maupun bus yang ingin berhenti. Foto Metrosemarang

SEMARANG – Selain belum signifikan mengurangi kepadatan lalu lintas, shelter atau tempat pemberhentian Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang dinilai kondisinya memprihatinkan. Di sejumlah titik tampak tak terawat. Bahkan dijadikan tempat parkir sehingga bus Trans Semarang tak dapat masuk.

Dari pantauan lapangan, shelter di sepanjang Jalan Siliwangi hingga Terminal Mangkang, koridor I, terlihat kusam dan tak terawat dengan baik. Debu yang pekat, coretan-coretan cat semprot di dinding maupun kaca, hampir ditemui di seluruh shelter. Begitu pun di sepanjang Jalan Prof Hamka hingga Sub Terminal Cangkiran, koridor IV.

Rolling door tidak berfungsi baik, bahkan ada pula yang hilang. Kerangka pada badan shelter dari besi alumunium pun mudah penyok jika terbentur benda keras. Tak hanya itu, anak tangga yang dicor semen itupun juga banyak yang berlubang.

Warga Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Saeful (33) menyayangkan kondisi shelter yang tidak terawat itu. Padahal menurutnya, penumpang bus Trans Semarang tiap hari menunjukkan peningkatan karena merasa nyaman bepergian dengan bus itu.

‘’Contohnya di depan RS Tugurejo (sekarang RS Adhyatma, red) lantainya, kursinya, kacanya hingga langit-langit atapnya penuh debu. Penumpang jadi merasa tidak nyaman menunggu di dalam shelter yang kotor,’’ katanya.

Kondisi shelter yang tak nyaman ditambah waktu kedatangan bus Trans Semarang yang dinilai cukup lama. Seharusnya ada perawatan secara berkala dan perbaikan sesuai yang dibutuhkan. Dia pun yakin sebenarnya pasti ada anggaran perawatan namun tidak dilaksanakan maksimal.

HA Supriyadi, Ketua DPRD Kota Semarang juga mendesak Dinas Perhubungan melakukan evaluasi penempatan shelter, terutama koridor III yang baru diluncurkan.

Dari 53 shelter yang ditempatkan, terdapat sejumlah titik yang tidak terkoneksi dengan koridor lainnya. Sehingga menyulitkan warga untuk pindah ke shelter lain. ‘’Dewan mengapresiasi jangkauan pelayanan bus Trans Semarang yang semakin luas. Kami berharap evaluasi penempatan shelter dilakukan supaya pelayanan itu semakin maksimal,’’ katanya.

Hermawan (42) warga Pedurungan juga mengatakan, kendaraan bermotor jangan dibiarkan parkir di sekitar shelter. Karena menyebabkan bus Trans Semarang tidak bisa berhenti di shelter. Sehingga menyebabkan bus Trans Semarang menurunkkan dan menaikan penumpang di luar shelter. (MS-13)