Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > Siswa Mardi Utomo Belajar Membatik Cipratan di SLBN Semarang

Siswa Mardi Utomo Belajar Membatik Cipratan di SLBN Semarang

Siswa SLBN Semarang sedang membuat batik cipratan (foto: Metro)
Siswa SLBN Semarang sedang membuat batik cipratan (foto: Metro)

Sejumlah siswa SLBN Semarang menyanyikan lagu berjudul “Ciliwung” di aula sekolah, Selasa (9/9). Lagu tersebut untuk menyambut sejumlah tamu yang hadir, yaitu tamu dari pusat rehabilitasi sosial Mardi Utomo Semarang dan sejumlah guru SLB Pelita Bangsa Jombang. Kehadiran mereka untuk menimba pengalaman sekaligus menyaksikan kegiatan anak-anak SLBN Semarang dalam membuat karya batik cipratan.

Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Mardi Utomo Semarang, Puji Astuti mengatakan, pihaknya mengajak lebih kurang 60 orang “penerima manfaat” dan 10 pendamping. Dia menyebutkan, para pendamping merupakan pejabat struktural, Kasi Pelayanan dan Kasi Penyantunan. Juga para pekerja sosial dan para penyuluh sosial. Adapun para penerima manfaat adalah orang-orang yang sebelumnya menjadi pengemis, telantar dan gelandangan.

“Tujuan utama kami datang ke sini (SLBN Semarang) untuk memotivasi para penerima manfaat agar menambah wawasan dan keterampilan, khususnya batik. Ini dalam rangka peningkatan kualitas mereka,” kata Puji Astuti.

Menurutnya, pihak Mardi Utomo memilih melihat proses penggarapan batik cipratan di SLBN Semarang lantaran penggarapannya cukup istimewa. Batik cipratan dikerjakan langsung oleh anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah tersebut. “Kami akan mengambil batik yang belum ada untuk dikembangkan. Setidaknya, sepulang dari sini mereka bisa berinovasi,” katanya.

Kepala SLBN Semarang, Ciptono mengatakan, kedatangan tamu dari pusat rehabilitasi Mardi Utomo Semarang merupakan sesuatu yang bermakna baginya. Menurut dia, melalui kegiatan membatik, para pengemis, anak jalanan dan orang telantar setidaknya memeroleh inspirasi untuk berkarya. Menurut Ciptono, Batik cipratan ini sebelumnya terinspirasi dari para siswa yang ketika diajari oleh guru cara membuat batik justru dipercik-percikan namun hasilnya malah justru bagus, imbuh Ciptono. (joe)