Home > METRO BERITA > Siswa SMA 3 Semarang Ciptakan Penangkal Radiasi Sinar Gama dari Plastik dan Cangkang Telur

Siswa SMA 3 Semarang Ciptakan Penangkal Radiasi Sinar Gama dari Plastik dan Cangkang Telur

METROSEMARANG.COM – Tri Ardiansa, siswa kelas XI IPA II SMAN 3 Semarang berhasil meneliti dan mengolah limbah plastik dan cangkang telur sebagai material proteksi radiasi sinar gama yang dihasilkan nuklir. Melalui penelitian tersebut ia sukses meraih medali emas di ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2016, akhir pekan lalu di Jakarta.

Tri Ardiansa menunjukkan medali emas yang diperoleh dalam OPSI. Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Tri Ardiansa menunjukkan medali emas yang diperoleh dalam OPSI. Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Ditemui di sekolahnya Selasa (11/10) siang, remaja berusia 16 tahun ini menjelaskan ide awal penelitiannya adalah lantaran curhatan dari seorang dokter yang sedang memeriksanya.

“Tahun lalu saya sempat dirontgen karena lengan saya terkilir. Saat itu dokter bercerita untuk memproteksi diri dari sinar gama harus menggunakan apron yang berbahan timbal, yang cukup berat, sehingga saat mengenakannya akan cepat capai,” kata Ardi.

Muncullah ide untuk membuat pelindung diri yang mampu menyerap radiasi nuklir dengan bahan lebih ringan. Akhirnya setelah berulangkali melakukan percobaan, Ardi memilih dua material yang dianggap limbah dan mudah ditemukan yaitu plastik berjenis PP (polypropilen) dan cangkang telur.

“Prosesnya kedua bahan itu dilebur hingga berwujud bubuk, kemudian diaduk menjadi satu setelah itu dilakukan penggabungan keduanya tanpa menggunakan pelarut dengan cara dipress agar menjadi padat,” terang putra pasangan Achmad Kosim dan Sulimah yang merupakan petani kentang di daerah Wonosobo ini.

Setelah dipress, plastik dan cangkang telur berbentuk lempengan-lempengan yang lebih ringan dari timbal dan bisa digunakan sebagai apron atau alat pelindung radiasi. Ia mengakui hasil temuannya memang belum sempurna.

Menurutnya, dari hasil uji yang dilakukan di laboratorium inti dan nuklir Universitas Diponegoro lempengan buatannya hanya bisa menyerap 85 Kiloelektronvolt (keV), sementara apron dari timbal dapat menyerap sekitar 200  (keV).

“Saya saat itu sudah jelaskan kepada dewan juri, standar apron anti radiasi memang timbal, tapi penelitian saya masih tahap awal dan saya ingin terus mengembangkan hingga bisa melampaui 200 keV,” beber Ardi. (vit)