Home > METRO BERITA > Siswa SMA 3 Semarang Sulap Kulit Salak jadi Mie Pencegah Diabetes, Kok Bisa?

Siswa SMA 3 Semarang Sulap Kulit Salak jadi Mie Pencegah Diabetes, Kok Bisa?

METROSEMARANG.COM – Pelajar Semarang terus berkreasi menciptakan karya-karya inovatif, termasuk Sakinah Rahman dan Nadwa Izza Asuma Arifin. Dua siswa kelas XI SMAN 3 Semarang tersebut berhasil menciptakan Mie Jakusa (Jagung Kulit Salak).
Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Sekilas terdengar aneh memang tapi siapa sangka mie berbahan kulit salak ciptaan Sakinah dan Nadwa ternyata mampu menurunkan kadar gula darah dalam tubuh.

Ide awal penciptaan Mie Jakusa sendiri diakui Sakinah lantaran ada anggota keluarganya yang mengidap penyakit diabetes. Pemakaian obat-obat yang selama ini digunakan menurutnya juga akan menimbulkan efek samping, sehingga ia dan Nadwa terpikir untuk menciptakan suatu terobosan baru dalam penurunan kadar gula darah tanpa efek samping.

“Obat kan juga ada efeknya nah terus kami tahu kalau ada pengobatan herbal Cina pakai kulit salak yang dibikin jadi teh, tapi belum maksimal jadi kami cari yang lain terus kepikiran pakai mie, karena sebagaian besar masyarakat kita kan suka makan mie,” terang Sakinah saat ditemui metrosemarang,com, Rabu (14/12) pagi.

Dua remaja yang baru berusia 16 tahun ini melakukan riset tentang pengolahan kulit salak dan pembuatan mie selama dua bulan setelah itu mereka mulai mencoba membuat mie dengan tepung jagung. Tetapi beberapa kali mencoba mereka selalu gagal lantaran tepung jagung tidak dapat menyatu sempurna dengan air.

Akhirnya mereka menemukan cara untuk mengakali kegagalan tersebut dengan mencampurkan tepung jagung dan tepung terigu, perbandingannya 4:1 untuk komposisi tepung jatung lebih banyak. “Beberapa kali gagal, setelah ditambah tepung terigu pun sempat gagal juga, tapi akhirnya berhasil,” imbuh Nadwa.

Ada dua bahan utama yang harus disiapkan untuk membuat Mie Jakuza, yaitu bahan untuk ekstra kulit salak dan bahan membuat mie. Bahan untuk ekstrak kulit salak cukup sederhana yaitu kulit salak kering dan ethanol 96%.

Pertama kulit salak kering dihaluskan dengan cara diblender sehingga menghasilkan bubuk berwarna kecoklatan sebanyak 500 gram. Setelah itu, bubuk kulit salak akan mengalami porses maserasi dengan cara dimasukkan ke dalam wadah lalu ditambah satu liter ethanol 96% untuk kemudian ditutup rapat dan diaduk tiap satu jam sekali selama 24 jam.

“Setelah 24 jam nanti campuran bubuk kulit salak dan ethanol dibawa ke laboratorium Undip karena di sini (SMA 3) nggak ada alatnya untuk diproses secara evaporasi memakai alat Rotari Evaporator, nanti akan dihasilkan 10% ekstrak kulit salak dari 500 gram bubuk salah tadi,” terang Nadwa.

Tahap selanjutnya kata Sakinah adalah membuat mie, bahan yang digunakan tepung jagung 250 gram, tepung terigu 50 gram, baking powder empat sendok spatula, air mineral 200 mililiter, dan tentunya ekstrak kulit salak. Semua bahan dicampur menjadi satu dalam wadah lalu diuleni hingga kalis dan tidak lengket, setelah itu adonan didiamkan sampai mengembang baru kemudian adonan dimasukkan di mesin penggiling mie.

Warna mie yang dihasilkan menjadi kuning cokelat karena ekstrak kulit salak yang dicampurkan saat proses menguleni adonan mie. Mie Jakusa dapat direbus langsung setelah digiling, atau bisa juga dikeringkan lebih dahulu menggunakan oven agar awet.

Mie Jakusa sudah diujikan pada tikus yang sudah dibuat hiperglikemi atau ditinggikan kadar gula darahnya hingga mencapai 200. Setelah tikus diberi makan Mie Jakusa kadar gula darah tikut turun menjadi 123. Berkat inovasi ini, Sakinah dan Nadwa berhasil meraih medali perunggu dalam ISFO (Indonesian Sains Project Olimpiad) dalam cabang Biologi tahun 2016 yang kebetulan digelar di Semestas Boarding School Semarang Januari lalu.

Kelebihan Mie Jakusa ciptaan mereka dibandingkan teh kulit salak yang sudah dipasarkan sebagai obat herbal terletak pada sumber karbohidrat. Menurut mereka teh kulit salak tidak memiliki sumber karbohidrat sementara manusia tetap membutuhkan karbohidrat dan mereka memilih tepung jagung sebagai sumber karbohidrat utama. Sementara kulit salak memang telah dikenal memiliki zat Flavonoid yang dapat digunakan untuk menurunkan gula darah.

“Mie Jakusa bisa diolah dengan digoreng memakaiminyak zaitun atau direbus dan aman dikonsumsi, karena ethanol untuk mengekstrak kulit salak sudah lepas saat proses evaporasi,” imbuh Sakinah.

Untuk saat ini baik sakinah ataupun Nadwa belum memutuskan apakah akan memproduksi dalam skala besar atau tidak untuk Mie Jakusa. Mereka mengaku masih butuh berdiskusi dengan guru pembimbingnya lebih jauh, tapi mereka berharap Mie Jakusa dapat dijadikan alternatif makanan sehat yang dapat mencegah diabetes. (vit)