SMANSA ‘Pecat’ Dua Siswa, Dewan: Sekolah juga Bersalah

METROSEMARANG.COM – Kasus yang menimpa AP dan MA, siswa SMAN 1 Semarang yang dikeluarkan dari sekolah turut menjadi perhatian Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang yang membidangi pendidikan.

DPRD Kota Semarang meminta SMANSA juga bertanggung jawab atas tindakan kekerasan di lingkungan sekolah. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Kasus dugaan pemukulan oleh AP dan MA kepada yuniornya di sekolah, yang menjadi alasan keduanya dikeluarkan dari sekolah seharusnya juga menjadi tanggung jawab dari pihak sekolah.

‘’Menurut saya, kasus itu tanggung jawab sekolah, sebab kasusnya terjadi pada saat kegiatan resmi sekolah,’’ kata Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Imam Mardjuki, Kamis (8/3).

Selain itu, politisi PKS ini mengungkapkan kasus dugaan pemukulan tersebut terjadi pada jam sekolah, tempatnya di sekolah, dan pelakunya bagian dari panitia yang ditunjuk sekolah.

Soal pemberian sanksi AP dan MA dikeluarkan dari sekolah karena memukul, menurutnya pelaku tentu memang bersalah dan harus diberi sanksi. Tapi sekolah sebagai pelaksana, pengawas, dan penanggung jawab kegiatan juga bersalah.

‘’Sekolah juga harus bertanggung jawab, kenapa (kasus pemukulan) itu bisa terjadi. Apalagi kasus-kasus seperti ini sudah sering terjadi dan mestinya bisa dicegah sedini mungkin,’’ kata Imam Madjuki.

Sanksi kepada kedua siswa pelaku dugaan pemukulan kepada yuniornya itu dinilai tentu memang perlu. Tapi yang penting hak belajar, termasuk hak ikut ujian nasional harus diberikan.

Terkait adanya gugatan kuasa hukum orang tua kedua siswa yang dikeluarkan kepada pihak sekolah SMAN 1 Semarang di PTUN, dia menilai itu hak hukum yang memang bisa ditempuh sesuai peraturan yang berlaku. (duh)

You might also like

Comments are closed.